Duh Serigala

Kenapa ya lagi-lagi serigala yang sedang dalam pikiran saya belakangan ini. Apa karena kata pepatah kuno dari orang kuno tapi masih dipakai, ditulis dan diucapkan orang yang merasa modern tapi kekuno-kunoan seperti saya ini, sekarang ini? Homo Homini Lupus, bahwa manusia adalah serigala buat manusia lainnya. Kenapa tidak lupus lupusini homo, serigala adalah manusia bagi serigala lainnya. Oh ya saya tahu, karena yang buat pepatah itu seorang manusia, lain halnya serigala yang buat itu pepatah, bisa jadi kita bingung.

Pada suatu ketika (bingung saya sama ini kata-kata), pada suatu ketika seperti tidak disengaja ya? Padahal saya menulisnya dengan sengaja. Ya sudahlah anggap saja saya tidak sengaja. Jadi begini, bagaimana ya? begini saja!

Hutan tempat jalan-jalan

Waktu saya berjalan-jalan kemana. Tiba-tiba pula, saya sudah ada di hutan. Lagi-lagi si Hutan tidak kemana-mana, padahal saya kemana-mana, curang dia si Hutan. Saya masuk ke hutan lari ke pantai, ah pasti anak kekinian awal 200oan yang punya idiom seperti itu. Saya masuk hutan, ketuk pintu dulu tidak? tidak usah ya, pintunya lagi di pahat kata penjaga hutan-hutanan. Kalian tahu tentunya hutan kan? kalau tidak tahu ya tidak mengapa. Kalau anak- cucu kita wajib tahu. Doakan saja tetap bisa rasa itu hutan macam bagaimana. Hutan sering kita lihat dengan cara membaca berita, artikel, himbauan, undangan, menonton televisi. Dan sering kita dengar lewat radio, lewat suara teman ngobrol, atau dari televisi juga, televisi yang diruang tengah dan kita ada di dapur.

Bahwasanya hutan kan makin jarang ya. Jarang ada yang ngerawatnya secara hebat. Secara hutan hebat kenapa? Dia hijau, banyak pohonnya, banyak duitnya juga. Lah kok banyak duitnya, ia kalau pohonnya ditebang, bisa jadi duit. Apalagi dijadiin pohon sawit. Aduh itu jangan deh, jangan ditiru, itu jahat! Tanahnya jadi tidak subur lagi, Janganla hutan di jadiin hutan-hutanan. Apalagi hutannya dibikin botak trus digali tanahnya, buat jadi tambang. Idih udah botak, bontel-bontel pula. hiii serem ya.

Hutan kan banyak jenisny tuh, ada yang suka hujan, ada yang suka produksi, sama ada yang suka dilindungi, ada yang suka cemara dan banyak lagi yang suka-suka. Dan di hutan itu istananya para hewan hutan bukan hewan-hewanan yang tidak terlatih keliarannya.

Nah pada suatu ketika lagi, pas lagi jalan di hutan. Saya mendenger ada suara kasak-kusuk. Tidak pakai selebriti ya. Bunyinya krasak trus krusuk. Saya diam, kalau saya teriak nanti dimarahin si Otan, ituloh orang utan yang jadi hewan langka karena diburu, dia lagi bobo siang jangan diganggu katanya. Kalian saja kalau bobo tidak mau diganggu kok. Otan juga, apalagi diburu dan dibunuh, malang si Otan.

Setelah saya pelirak-pelirik kanan ke kiri, saya melihat sekitar, sedikit memutar, memastikan apa dan siapa yang berbuat itu. Pastinya dia sedang tidak iseng. Padahal saya sedang iseng.

Saya perlahan melihat bulunya. Oh tidak, itu pasti kanguru, eh bukan kangguru. Dia lagi mengajar. Dia tidak mungkin sedang dihutan, dia kan guru jago kandang, mengajarnya berani di kelas saja. Pas lihat itu, apa yang saya lihat adalah seekor serigala, sekali lagi serigala!

Waw, kenapa seekor? Karena dia serigala dan bukan cicak. Kalau cicak (cicek panggilan akrabnya) terinjak ekornya bisa putus. Kalau serigala? Silahkan coba injak ekornya, kalau serigala yang lagi dibius / mati bukan karena saya, saya mau menginjaknya buat kalian. Kalau masih hidup, kalian saja, saya emoh.

Sepakat ya serigala itu kita kasih nama Sri biar mudah dan bisa lebih akrab. Sepakat? Sepakaaaaaaaat. Sudah saya duga. Serigala itu sah bernama The Sri, biar ndak mirip jenis minuman mirip teh (Si sri)

The Sri itu terus melihat saya. Sepertinya The Sri itu lapar. Coba dia bilang dari kemarin. Saya bawakan ceker ayam yang ditepung. Yang juga saya kira itu pisang goreng. Saya tahu itu ceker ketika hampir masuk mulut, “mas ini pisang goreng ya?” saya tanya dan saya dengar sepertinya iya. Aaaaaa (mulut terbuka siap menghantam) “bukan mas itu ceker” kata mas angkringan.. krek.. ceker ayam yang berkamuflase jadi pisang goreng itu tergigit, yaaaaakk.. saya sedang tidak ingin itu ceker. Saya kasih saja ke kawan yang suka. Dan mereka bilang saya bego, sukurlah cuma bego coba mereka bilang saya pintar, barangkali saya akan menelan semua yang mirip-mirip pisang goreng berselimut tepung.

Kembali lagi ke The Sri. Bagi manusia biasa seperti saya pastilah saya takut sama The Sri, dan The Sri itu sepertinya tidak ada takutnya sama saya. Saya hanya berpikir untuk bagaimana caranya lari kencang tanpa tersandung dihutan yang banyak akarnya ini. Tapi sepertinya The Sri tahu apa yang dipikiran saya. Dia makin dekat, saya semakin terintimidasi, saya takut bukan apa-apa. takut bukan kepalang.

S aya mempraktekan menjadi patrick si bintang laut, saya berkata “sampai tidak melakukan apaaaa.. apaaaa… heeek” ternyata The Sri semakin dekat, ia tidak takut apapun jua. Saya sebaliknya semakin ngeri dibuatnya, terkencing-kencing ketakutan. Hanya wajah ibu, bapak, adik, sanak saudara, handai, taulan, muslimin muslimat semua manusia yang baik-baik dan jahat-jahat sama saya. mereka semua membuat saya dan air mata  mengucur, dalam hatiku berkata “saya ingin membahagiakan kalian, tapi lihatlah The Sri ini membuat saya menangis, ia mau menjadikanku kudapan siangnya, kalian dengar? kudapan! ah kalian tidak dengar, kalian maunya di sms dulu”

Tapi apa yang dilakukan The Sri ia kencing, mengangkat kaki belakangnya, yang utara atau selatan saya mendadak buta arah, Apakah serigala itu kencingnya mirip seperti anjing yang mengangkat kakinya? Kalau kalian tahu tolong beritahu saya, dengan memberi komentar di kolom komentar setelah usai ini.

Lalu selesai kencing The Sri berdiri dengan kaki belakangnya ia tertawa terbahak-bahak, mungkin gak, mungkin saja, siapa tahu The Sri  pernah berguru di sirkus. Ada suara latar yang bikin suara tawa itu semakin mengerikan, sekaligus menggelikan. Dan The Sri masih tertawa, dan saya mau tertawa juga tapi takut The Sri tersinggung,

Kemudian The Sri  berhenti ia tersedak sepertinya, lalu ia tertawa lagi “ha.. ha.. ha.. ha.. balon ku ada lima ha.. ha.. ha..” Ketawa nya lucu, dan ia berkata, “hai manusia setengah kencing (baca: kucing-red) kalau kau mau ketawa juga, tertawalah bersama.” Sayapun tertawa “ha.. ha.. ha.. ha..” Kami tertawa bersama.

Lantas gerangan apa? The Sri itu mengajak tertawa saya. Mungkin dia kesepian tak ada yang menemaninya tertawa. The Sri itu suka bercanda ternyata, sama seperti saya. Tertawa kami mirip ha.. ha.. ha.. bukan xi.. xi.. xi.. The Sri itu berhenti mendadak dari tawanya, dia bilang “Ooofff…Ooofffffff.. Gobloog.. Ooofffffff..” The Sri nampaknya serius. Dia bilang kalau dia bisa serius! Trus saya menunduk, dan menjawab saya juga bisa serius, takut saya tak reda pula.

Serigala bilang, dia bilang ini. “Hei kamu, tampakkan wajahmu, hindari menunduk tunduk. Kamu yang merasa tidak keren karena memang tidak keren. FEAR MAKES THE WOLF LOOK BIGGER, FEAR MAKES THE WOLF LOOK BIGGER

Fear Makes the Wolf Look Bigger / sumber

The Sri pergi, berlari menggunakan dua kaki belakangnya, dan dua kaki depannya menyerupai tangan melambai bak model di wolfwalk karena catwalk hanya untuk kucing. Duh The Sri – Si Serigala, kenapa tidak kalahgala atau menanggala apalagi serilangka.

Teh manis gelas ketiga hari ini, diruang ber-AC yang panas.

Tanggal 31 dibulan yang katanya maret.

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s