Hei Kamu, Ah Pagi.

Pagi hari di tempat lain, orang menyebutnya Brebes. (gambar pada tulisan tidak sinkron, ini bukan salah anda, ini salah saya) :P

Pagi, sekali.

Kamar hitam bergemuruh. Mesin itu membangunkan saya, kurang ajar memang, padahal berapa jam lalu ia pula yang menemani saya tidur dengan daftar main yang saya atur untuk mati sejam kemudian, dalam kamar hitam. Lampu merah yang sering hadir, ia absen dengan sengaja, tapi dia tak memberi surat. Kamar hitam menjadi benar-benar hitam menaungi semua dimensi gerak-gerak yang terbatas. Mata yang terpejam, namun pikiran tidak.

Saya bermimpi, karena semua orang percaya itu mimpi, sebagian pula menjadikannya bunga, tidak tahu kenapa. Disini saya bisa melihat diri sendiri tidak perlu cermin, tapi melihat diri saya yang lain, ia sendiri. Diri saya yang berlari-lari, ketakutan, kecewa, dan tertawa.

Diri saya yang lain, ia sendiri. Saya tak menemaninya, saya tidur. Ada orang-orang yang menemani saya disini, kawan-kawan saya mampir dalam mimpi, mereka tidak bilang terlebih dulu. Orang-orang yang terkenal, maksudnya, saya kenal. Ada pula yang orang asing yang tak terkenal, mereka yang memang tak saya kenal. Mereka mampir, mengejar, menertawakan, membodohi, membuat kecewa, membuat takut, membuat senang bukan kepalang. Itu semua sayangnya mereka cuma mampir, mereka hanya hadir. Diri saya yang lain. Ia sendiri. Saya tak menemani, saya tidur.

Dan.

Saya bangun, lebih tepatnya terbangun. Siapa pelakunya? Ia bernama alarm, dipanggil alarm biar keren, nama panjangnya bunyi peringatan. Ia lahir dari olah tangan dan pikiran yang menemukannya. Garis keturunan dari ditemukkannya baterai, telegraf, telegram, morse dan kawan-kawannya yang juga sama hebat dan keren.

Dulu ia begitu sederhana dan sekarang juga masih sederhana cuma bajunya saja yang berbeda. Sekarang ia bersemayam dalam bentuk alat komunikasi genggam, bersebelahan dengan sinyal, pesan, radio, kamera, dan pemutar music, bersebelahan juga sama si gigi biru.

Ia berisik sekali, kenapa? Karena kadar teriaknya sengaja dibuat besar jadinya cerewet. Dulu mungkin bunyinya monoton, tapi sekarang bisa berupa polyton, malah lagu-lagu yang meng-ganggu-gugah pun mampu dinyanyikannya.

Saya yang baru bangun, kawan-kawan, kakak-kakak, saudara-saudara saya yang lain sepertinya masih tertidur. Kamarnya yang berpintu, pintunya yang tertutup. Atau bisa saja pura-pura tidur, bisa juga mereka tertawa dibalik pintu yang tertutup itu *hihihi sukurin lu kira gua tidur* bisa juga diatas kasurnya.  Terus apa yang saya lakukan? Itu yang biasa saya mau lakukan, setelah merapikan isi tas, yang setengahnya sudah dirapikan sebelum tidur. Saya minum teh di plastik sisa semalam, tadinya ia disebut es teh, tapi tidak lagi, karena es nya sudah menjadi air, air bersama teh.

Saya baca buku sebentar sambil membiarkan sigaret sisa semalam terbakar hingga  tinggal filternya saja. Tidak lupa itu siapa? Si Roger Waters sama kawan-kawannya itu, saya biarkan menjadi orang tua imajiner saya, Ia menyanyi kesana-kesini. Lalu biasa saya tinggal mandi, sabun saya habis, saya pakai sabun entah punya siapa. Nanti kalau saya tanya dulu itu sabun milik siapa, mereka pasti tidak menjawabnya, wong mereka juga masih tidur atau pura-pura tidur. Nanti saja kalau bertemu mereka dan mereka sudah bangun atau pura-pura bangun, saya baru tanya.

Saya berangkat bersama Ramses Pertama. Ia minta dimasukin angin dulu, kempis katanya manja. Padahal kalo saya masuk angin itu tidak enak, tapi Ramses beda ia harus masuk angin. Tidak lupa helm biar tidak kelihatan keren, dan juga earphone biar bisa dengar pink floyd dan teman-temannya mengisi kuliah pagi. Earphone itu sekaligus berfungsi mem-filter jika saja ada yang teriak saya keren padahal saya tidak.

Di jalanan tidak hanya saya dan ramses saja. Ada juga manusia, kebanyakan seperti serigala berbulu manusia, yang lari-lari kencang-kencang. Mereka lalu-lalang, lalu-hilang dengan kecepatan. Kenapa mereka harus kencang-kencang, padahal tidak ada yang mengejar mereka. Ah.

Saya sampai juga ke tempat yang saya tuju. teman saya kaget, saya tidak. Saya cengar-cengir, dia juga ikut cengar-cengir.

Sekarang saya sama segelas teh hangat yang manis. Ada juga si aseo, dia kedap-kedip genit dari tadi. Saya berlagak acuh. Eh ternyata ada asbak juga, tidak baik lah kalo asbak kosong, kurang berestetika. Saya bakar sigaret berikutnya. Itu suara mas Cholil, Acum sama Robi juga malah ikut-ikutan berisikin saya.

Ah Kamu, Ah Pagi.

Satu hari menjelang April, sudah hampir tidak pagi lagi,

dan diluar masih banyak serigala kurang tidur tapi kesiangan. auuuuuuu.. auuuuuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s