Selamat sore, Pagi!

Asap yang bersumber dari nyala puntung yang diacuhkan hingga membakar dirinya sendiri dikarenakan sang empu sedang asik menyapa huruf demi huruf yang sesekali dihapusnya dengan tanda panah kekiri. Puntung yang sesekali membakar puntung lainnya, membakar puntung yang disamping kiri-kananya. Asap itu menyalak dari lingkaran kaca bersama puntung demi puntung yang tergeletak dalam kubur masalnya sementara. Puntung-puntung harapan yang menebar nyala dalam gelapnya lampu beraroma merah. asap yang larut bersama tegukkan kopi dalam gelas-gelas yang terus dihujani interupsi bibir-bibir gemetar. Asap beserta puntung-puntung yang basah dalam gelas bercerita tentang pagi. Hai, Pagi. Selamat sore.

fight where you stand

Ia, Pagi. Bangun dari cidera yang amat panjang, cidera yang hampir membuatnya bungkuk lalu terus membungkuk, membungkuk sakit akibat menghindari halang rintang yang dibuatnya sendiri tanpa sadar hingga membentuk teka-teki kasat mata. Kenyataannya halang rintang itu akan tetap ada dan terus bertambah seiring langkahnya menjauhi halang rintang yang sudah dilewatinya. Ditemukannnya jawaban atas teka-teki sebelumnya, bertemu pertanyaan berikutnya, mendatar, menurun, diagonal itu sendiri. Hingga suatu ketika halang rintang yang berlarut itu akan rubuh jikalau memang sudah dirubuhkan. Oleh siapa lagi yang kuasa merubuhkannya kalau bukan si Maha Tuan dari halang rintang itu.

Pagi yang merupakan sosok pejalan kaki. Pejalan kaki, pejalan kaki, pejalan kaki, memang.

Pejalan kaki yang berkendara. Ia berjalan tidak dengan kakinya, ia berjalan dengan irama nafas yang bersumber dari labirin kepalanya. Ia menggabungkan diri, ia menyatu, lama dan semakin lama. Ia berputar-putar dalam sekat-sekat pikiran yang pekat nun memekakkan. Hingga ia lupa dan bertanya. Apakah benar ia memiliki pikiran? Atau bisa jadi ini hanya hasil dari pikir-pikir. Coba tanya pada hati.

Pertanyaan itu terus melekat dalam hatinya, hati yang guncang gulana, hati yang selalu bertanya-tanya apa mau si kepala? Hatinya yang mudah diombang-ambing gelombang super mikro, diombang-ambing bagai perahu nelayan selatan yang terkena angin darat, mengingatkannya untuk selalu tidak lupa akan dari mana asalnya, daratan. Hatinya dengan wujud jagoan laut yang pulang dengan tertunduk jengah mengantarkan pada kelompok terkecil yang berkomposisi manusia-manusia yang dicintainya. Pertanyaan yang pulang pergi dari proses mengapung-ngapung, menerjang badai-badai tak kenal jera, masuk angin lalu mengancam bahaya. Mengembalikkannya pada wujud asal jamban yang tak melulu bermuara di dalam tanah.

Rumahnya, pagi. Rumahnya begitu luas, amat luas. Dengan jumlah kamar tak terhingga, sekat-sekat kamar yang mahardika menyentuh langit-langit bertepi. Tapi, Pagi. Lihatlah halaman rumahnya. Begitu bersih dengan daun-daun mati yang menganga dan tengkurap. Daun-daun menutupi setiap jengkal indahnya, hijaunya. Halaman yang dipenuhi dengan daun-daun yang lelah, setelah lama bergantung dan mengabdi pada anggota tubuh lainnya. Daun yang berwarna kekuningan, banyak juga yang kecoklatan. Daun yang resah hingga lelah, tertiup angin yang tak kenal siapa yang disapanya. Tersiram hujan yang membasahi setiap gerak-geriknya. Terpapar panas yang selalu membuatnya merasa hidup dan berguna. Halaman yang luas itu begitu mati. Daun-daunnya diam, tidak menyapa dan menyala. Halamannya diam, mencoba menceritakan pintu masuk yang segera diketuk siapa saja setelah melewati bagian ini.

Rumah yang berpenghuni. Pagi. Rumah itu berpenghuni. Tapi kemana? Bisa kenapa belum tampak juga jari kelingking mereka. Pagi? Kemana mereka, penghuni rumah itu? Mereka tertidurkah? Mereka pura-pura pergi? Seperti memberi isyarat rekaan belaka jika rumah itu hanya berisi mesin-mesin pencari, penghuni yang mencari-cari. Penghuni yang memberi? Apakah mereka memberi dengan hati-hati, tanpa hati? Pagi, siang sedang menuju kesini.

Pagi namamu, secercah cahaya selalu beserta dengan awan yang berkelebat datang denga bergerombol seperti pasukan perang. Ia merindukan orang yang merindukannya. Pagi yang merindukan orang-orang yang selalu merindu, dilanda rindu. Pagi, kamukah orangnya? Yang selalu membuat halaman itu bersih kembali, menampakkan hijau yang asik untuk sekedar duduk-duduk diatasnya sambil memakan kudapan berseri kodebar kue cucur. Pagi kamukah orangnya yang selalu siap membawa dan menggerakan sapu lidi yang lentur bertenaga.

Jika benar itu kamu, Pagi. Selamat Sore.

Kamar hitam dengan lampu menyala merah. Maret, hari ke 30.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s