Benar Sajakah, Benarkah Saja?

papagigi

Pagi benar saya seharusnya bangun, namun pagi itu berkehendak merah dan marah. Benar pagi yang terbangun oleh sebuah bangunan imaji, bangunan yang menyerupai kandang. Kandang yang dinyamankan, siapa pula menyebut kandang namanya. Orang mungkin banyak beranggapan kandang identik dengan binatang. Dan akan kubuat patahaan keidentikan itu. Kandangku bukan untuk binatang saja. Kandangku juga untuk siapa dan apa saja, baik manusia seutuhnya, separuhnya, apalagi seperempatnya manusia. Bisa benda nyata, maya, menjelang maya, menjelang nyata.

Pagi yang dingin seperti biasanya, ia seperti bersahabat dengan kipas yang semakin tua namun tetap konstan terus mencoba berputar menambah dingin ruangan. Pagi itu aku kembali membuka lembaran biru, lembaran baru berwarna biru, biru yang memar, tertampar oleh waktu. Kuaduk sajak dalam segelas kopi. Sajak itu menyelumuti pagiku. Pagi yang gelap, sajak yang menemani orang tertidur, membangunkan orang yang bangun. Pagi itu sajak ini selalu membuat biru. Pagiku hitam pagiku putih. Mereka biru. Biru memar. Memar sekali.

Aku bangun? Lalu terbangun, aku bangun lalu membangun, dengan catatan-catatan kecil yang menyerupai asap sigaret yang dibakar. Ia perlahan bergabung dan menghilang. Pergi kemana? Entah biarlah dimana? Catatan itu kembali menyamar dengan sebatang lebih sebatang, aku lagi kamu. Catatan yang membangunkanku, membangunkannya. Dari bangunnya.

Benar saja, pagi itu pagi yang biasa, dengan kebiasaan yang tidak biasa. Aku melangkah dengan catatan yang tersisa, dengan segelas kopi berikutnya, berkantung sigaret selajutnya. Siapa kira, pula siapa duga, aku melangkah dan berlari sana-sini. Mereka tertawa. Langkahku tertawa. Langkahku menertawakanku. Aku pun tertawa. Menertawakan langkahku. Namun mereka memilih diam. Mereka menghujam pagiku, dengan sosok yang lembut, mereka perlahan mengeluarkan bisikan yang keras, sosok lembut itu berbisik berisik.

Dengan catatan dan air yang mengalir tertib. Aku rindu pagi itu. Di kandang yang itu juga, dengan langkah yang itu pula. Serta Langit Yang Akbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s