Pas Lagi

Mengulang ingatan akan pertunjukan musik pertama yang saya lihat di tanah rantau.  Pas Band. Setelah lama bergumul dengan hari-hari yang hati-hati. Akhirnya kesempatan pertama itu terulang kembali. Mereka “pas band” kembali beraksi di kota tetangga, Solo. Bertempat di lapangan Mojosongo. Acara yang dikemas dengan nonton bareng bola, kebetulan yang bermain adalah kubu MU dan Liverpool. Setelah pertandingan selesai. giliran Pas Band yang bermain, melawan siapa? Melawan rinduku, rindu kami, rindu mereka dan siapa saja yang menyempatkan waktunya hadir bersama menantang malam di tengah lapang.

pas band/diatasbumi
pas band - yesterday (the beatles cover)/diatasbumi

Kami berempat dengan dua motor melaju dari kota asal menuju tempat konser. Berangkat di sore hari yang basah sekitar pukul lima. Memang sedari siang hujan sudah mewarnai hari. Perjalanan pun kering dengan keinginan kami,  asap sana-sini, obrolan lantang-luntung ketika berkendara menghalau berisiknya rintik hujan.

Kami berpikir akan tiba ditempat telat, kendaraan kawan harus ditambal karena bocor ban, akibat dari menghantam garis kejut yang kejam. Pukul setengah delapan kiranya kami melanjutkan perjalanan. Setelah bertanya perihal letak lapangan mojosongo akhirnya kami melaju. Lurus sampai mentok. Belok kiri. Lalu lurus terus, lagi.

Kami pun tiba, parkir. Dari kejauhan, lokasi acara yang bising sudah menggoda, tapi ternyata pikir kami tadi terbantahkan, pertandingan bola baru dimulai beberapa menit saja.

Awalnya pikir kami, terka kami berdasarkan  informasi yang didapatkan acara dimulai pukul tujuh malam. Dan bola bermain pukul sepuluh malam. Ternyata sebaliknya, pertandingan MU vs Liverpool lebih dulu baru konser . Jam sepuluh malam sekiranya. Akhirnya yang dinanti tampil, Pas Band pun main.

Dimulai dengan lagu berjudul “Paser”. Beberapa urut lagu berkumandang. Disela jalannya konser ada sebuah lagu yang dinyanyikan untuk paser yang meninggal dunia karena sakit, sebelum ajalnya menyambut, alm.  menginginkan Pas Band untuk memainkan lagu berjudul “arti kawan”. Semoga almarhum bahagia di sisiNya. Lagu-lagu pun kembali bergema. Dengan suara latar yang menggoyang, tarian pemanggil semprotan air terus dilakukan. Dan tak terasa konser mengalah pada waktu. Hits “jengah” jadi tembang selamat berjumpa lagi. Sepertinya malam itu Pas Band memainkan 10 lagu lebih. Saya terlalu bergembira. Kami larut dalam alunan, persetanlah dengan urutan, malam tetaplah malam. sayang singgasana tuhan tak dinyanyikan, tapi itu bukan masalah. :p

Air disemprotkan dari pojok panggung, ini yang menarik jika konser luar ruangan. Sepertinya asal air dari selang mobil pemadam, lantas apa yang kami lakukan, ada yang menjauh, ada yang menawarkan punggungnya sambil memeluk apasaja. Kami sendiri melindungi tas dan kamera lalu kembali menghadang musik dengan wajah menganga, dan kepala mengangguk. Menonton konser di lapang terbuka memang bikin keringat dan sulit bernapas bagi yang berjoget ria. Ada gesekan, ah itu cuma cowok yang kelewat sensitif saja.  Mungkin untuk sebagian dari mereka air itu atau “air yang itu” adalah anugerah. :D

Hahaha.. Lelah memang hari itu, namun ladang harus digarap, permata yang hilang harus ditemukan. Perjalanan menonton konser menjadi cerita tersendiri dari hari-hari kesepian kita. Lalu kami pun bercanda ketika tiba di peraduan, bagaimana dengan mudahnya kami menyambut lelah, bagaimana mudahnya kami jengah. hahahaha.

Pas Band/diatasbumi
Ayo Paser/diatasbumi

Yesterday, Kami selalu muda, franz, faqih, bim dan saya yang kemarin.

anakwayang_1502

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s