Kereta Bercerita

Sore yang datangnya tak ku tunggu, aku mencarinya. Aku terdaftar dalam gerbong yang diberi nomor urutan ke-tujuh. Duduk berhadapan dengan suami istri, dan bersebelahan dengan bapak yang tenang.

Sore menjelang petang itu gerbong mulai merangkai cerita, melewati garis rel yang tidur beralaskan pecahan batu. Petang tidak telat, ia segera datang, sore pun pulang perlahan, dengan jingganya yang ia menyapa, derungan suara mesin kereta dan decit rem yang biasa menjadi ritme bayangan, diwarnai obrolan dan disusul tangisan bayi  yang turut serta menjadi penghuni gerbong.

Berdialog tak lama dengan suami istri itu, tak lama pula mereka tertidur bersama, kakinya mengambil sedikit tempat dudukku, itu bukan masalah bagiku, karena kujuga merasa di kereta ekonomis ini, menekuk kaki selama lebih dari delapan jam bukanlah ide bagus. Dan aku pun bukan orang yang diam duduk manis, aku lebih suka berada di perbatasan antara gerbong, ruang kecil yang memisahkan tempat penumpang dengan sambungan kereta.

Di tempat itu, pinggir pintu, aku disana, angin di pintu lebih ramai menyapa tak seperti ketika lewat jendela. Dengan kamera ponsel berserta analog yang selalu kubawa. Aku suka mengambil gambar kereta yang berbelok. Langit saat itu tak terlalu cerah, namun itu bukan halangan. Kereta berbelok seperti menawarkan pepatah abadi, bahwasanya sesuatu yang “lurus-lurus” itu terkadang menjemukan, hehe. Antara Lempuyangan sampai Kutoarjo banyak jalur berbeloknya.

Dengan kereta bersandi Progo itu dari Jogja ke barat waktunya sore hari, karena terangnya masih sedikit terjamah, jika beruntung dapat bonus langit jingga. Sebaliknya, jika dari barat, kereta itu mengejar pagi, dengan cahaya yang dominan kuning, jingga dan cerah. Siapa sangka bisa jadi ramuan yang menyenangkan. Selain waktu-waktu itu, yang dilewati progo adalah waktu terangnya teknologi.

Kebiasaan yang menyenangkan dalam penantian adalah kombinasi buku, musik, dan sigaret. Ya kombinasi itu terasa seperti sesajian yang harus ada, disambi dengan harapan tak kasat mata mengkonversi lamanya laju, sering mengalahnya kereta, hingga stasiun tujuan segera membuka gerbangnya.

Buku satu, buku dua bergantian aku baca, lagu satu dan lagu seterusnya menemani pula, batang pertama hingga berbatang-batang menjadi lebih kuat pengaruhnya ketimbang daya tahan baterai pemutar musik itu sendiri. Selebihnya lagi putaran roda kereta dan decit rem yang menemani, sesekali musik di ponsel yang menggantikan.

Selain alunan tersebut, tangis bayi, suara pedagang yang berlomba menawarkan kopi, makanan, hingga oleh-oleh khas daerah tertentu bagai menggema bergantian tak kenal jeda, seperti tak lelah. orkes yang selalu membuat geleng-geleng kepala, benci tapi rindu lebih tepatnya.hehe

Purwokerto, Cirebon terlewati.

Tertidur, adalah obat mujarab selain sesajian tadi. Dan benar, kereta mulai menahan lajunya yang lepas, pertanda segera tiba di stasiun pemberhentian terakhir. Gerbang ibukota dimulai dari Bekasi, dengan udara dan atributnya yang serupa, menandakan kota sejuta mimpi itu sebentar lagi siap menguji.  Jatinegara berikutnya, lebih dari sebagian orang di gerbong ini turun, mungkin juga gerbong lainnya. Jatinegara, stasiun favorit orang menurunkan kakinya dan barang bawaanya, melanjutkan langkah mimpinya setelah bergemul dengan kursi kererta yang semakin tipis saja terasa.

Dan Pasar Senen sudah dijangkau, kereta berhenti menurunkan penumpang agak lama. Orang-orang dengan muka lelah, masih menahan kantuk, yang segar dengan tisuu basahnya. Penumpang beraneka macam, membawa bawaan yang tidak sedikit, menyatu meninggalkan gerbong, mendekati pintu keluar. dan berpencar.

Sanak saudara, penyedia jasa taksi, ojek, hingga bajaj mendekati, menawarkan jasanya, dan seperti biasanya aku hanya bisa menolak, tidak, terimakasih, menggelengkan kepala. Dipelataran stasiun adalah pengantarku menunggu, keramik yang putih ragu, media pengantar untuk mencapai waktu berikutnya. Aku tidak sendiri, namun beramai-ramai. Di pelataran itu banyak orang beristirahat berdampingan, berjejalan dengan kardus, koper, tas-tas. Dengan motif masing-masing, entah menunggu pagi, atau menunggu antri, menunggu dijemput kereta pujaan yang dinanti.

Mungkin juga mereka dari perbatasan yang memilih menginap di stasiun daripada harus kembali ke rumah dan bergulat dengan macet esok harinya. Aku nyatakan bergabung, disela-sela mereka yang tertidur beralaskan koran, menutup mukanya dengan saputangan maupun koran lainnya.

Dengan sisa-sasa daya, buku dan pemutar musik itu mulai menemani lagi, setengah tiga, masih sebantar lagi jam tujuh. Bisa bangun dan menuju shelter trans jakarta menuj baratnya kota, tapi hari itu aku ingin ke leuwinanggung, memulai cerita baru menukarkan usaha dengan sedikit kertas pembebas masuk.

Jam tujuh adalah pilihan tepat bangun, dan benar tam tujuh kuterbangun, stasiun yang lelap itu tadi, sekarang sudah berubah dengan antrian yang mengular. Maklum perusahaan KA (kereta api) mempunyai kebijakan pembelian tiket adalah tujuh hari sebelum hari keberangkatan jadi mereka berlomba siapa cepat dengan para calon penumpang lainnya, berlomba siapa beruntung deggan para pura-pura calon penumpang alias calo‘ yang akan menjual kembali tiket dengan harga yang mahal tak terkira.

Seperti pagi yang lainnya, menuju kamar mandi sekedar memandikan muka. dan membeli minuman penyegar, serta sebatang coklat mini, sebagai hadiah bagi diri sendiri.

Setelah bergabung dan mengular dalam antrian, akhirnya penjual tiket sudah tampak jelas lewat mataku. Kurang lebih 5 orang lagi giliranku. Dan lagi-lagi benar saja prediksiku, omongan-omongan penumpang lainnya, tiket yang diinginkan tanggal dua/tiga sudah habis terjual, terpampang jelas pengumungan sial yang menempel di kaca loket tersebut. Sebelum tambah mesra dengan lubang loket, aku beranjak pergi meninggalkan antrian.

Dan cerita baruku akan ku mulai, perjalanan ke Leuwinanggung. Aku akan menuju shelter Trans Jakarta menuju tempat pemberhentian pertama dalam catatan mini yaitu Terminal Bis Kampung Rambutan. Uang Rp 5000 sudah sedia untuk mengganti karcis TransJakarta seharga Rp 3500. Oh iya dengan Rp 3500 saja bisa putar-putar Jakarta, kalo mau menikmati macet itu juga. Tapi saya mah mau ke Kampung Rambutan saja. Stok nyali belum terisi penuh, belum kuatlah sama macet walau sudah biasa, jaga-jaga lowbat di jalan, sayang yeuh waktunya, hehehe. Oke, dalam benakku “Leuwinanggung tunggu aku.” :D

2 thoughts on “Kereta Bercerita

    1. haha bukan memuja, tapi memuji, hanya dengan berbelok, yang ada dalam rangkaian bisa melihat/menemukan kepala. dan lurus yang gimana dulu dab, yang alami atau buatan, saya mah yang alami-alami aja deh, lebih tahan lama. hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s