Siang hari yang biasa itu dengan seragam yang masih sama sedari pagi. Di hari yang biasa, dengan aturan yang biasa, masih ditempat yang sama, dengan semua elemen rata-rata sama.

Bagaimanapun kegiatan hari-hari seperti biasanya, urutannya dan rangkaianya, hanya hal tertentu yang membuatnya terlihat “beda”. Namun kesamaan itu tak berlangsung sehari penuh.

Sore hari. Dengan cuaca yang berubah seketika tak seperti dari pagi hingga siang hari. Teriknya lelah berganti awan yang mulai menghalau sinarnya.

Memang terkadang mendung bukan pertanda hujan akan datang, tapi mendung hari itu benar-benar berakhir pada hujan. Hujan yang riang. Dengan rintiknya, kemudian deras pun mulai menyapa. Ku menyusuri jalan pulang yang biasa, dengan jalur yang sama. Meski kendaraanku yang merayap di jalanan basah dan tergenang, dan kutahu wilayah itu, memang sudah biasa. Dan aku bergembira.

Sebelumnya. Tibalah, kami dibawah langit dan kasih-Nya. Di ujung jalan, seberang masjid. Dibawah pohon jambu depan rumah yang sering ku datangi tengah pekan. Karena tahu akhir pekanmu lebih sering tak disitu.

tanya sendiri

Bagaimanapun jari kelingkingmu, ucapan itu, gerak tingkahmu, dan raut wajahmu dengan garis-garis gerimis, aku (masih ingat) kemarin itu, Jingga.  Rintiknya.

Sekarang dari hari kemarin, masih dengan bilang-bilang(an) yang sama, dua dan tiga, di bulan desembersentimentil, “bunyi sunyi” bernyanyi:

jika Allah menghendaki kita bisa lagi bertemu.

 

bunyi hujan bicara sunyi

semoga tahu apa terjadi

aku disini tak ingin rindu

tentang banyak hal menyangkut dirimu

tak mau tahu apa kabarmu

tetapi kau usik sunyiku

tak mau tau siapa denganmu

tetapi kau ganggu diamku

 

aku disini tak ingin rindu

tentang banyak hal menyangkut dirimu

tak mau tahu apa kabarmu

tetapi kau usik sunyiku

tak mau tau siapa denganmu

tetapi kau ganggu diamku

 

meski waktu mampu hapus cerita

namun ku bahagia semua karena cinta

 

tak mau tahu apa kabarmu

tetapi kau usik sunyiku

tak mau tahu siapa denganmu

tetapi kau ganggu diamku

 

tak mau tahu apa kabarmu

tetapi kau usik sunyiku

tak mau tahu siapa denganmu

tetapi kau ganggu diamku

tetapi kau ganggu diamku

tetapi kau ganggu diamku

 

_thepanasdalam-bunyisunyi_

Hari-hari hati hati kami pun juga. Ceritamu, ceritaku. Ada yang kumengerti, mungkin banyak yang belum juga kumengerti, begitupun sebaliknya. Dan ketika merasa beda, padahal, adalah sama rasanya. Duaribulima titik titik lalu duaribusebelas.

 

anakwayang_2312

2 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s