ah!

ilustrasi/google

Ada seorang ibu yang anaknya menyukai gula secara berlebihan, dan ibu itu pun mendatangi Kyai Kholil, untuk mengadu perihal perilaku anaknya. Kiai pun menyuruh si ibu datang seminggu lagi dengan membawa anaknya.

Lantas seminggu kemudian si Ibu itu datang membawa anaknya, lalu Kiai Kholil mengusap-usap ubun si anak dan mengatakan, “jangan makan gula lagi ya”. dan anak itu mengangguk, patuh.

Bukan main, Kiai tidak menggunakan aji-aji khusus yang dipikir orang kebanyakan ketika harus berobat ke seorang pandai. Istri sang Kiai heran kenapa 1 minggu belakangan kiai selalu meminta untuk tidak menggunakan gula dalam kopi dan makanannya. Sang kiai “melarang” si anak untuk memakan gula, dengan berpuasa gula terlebih dahulu.

Negara yang ramai. Indonesia, keberamai-ramaian itu mengusikku. Tentang “kekuatan yang ditakuti” sebagian anak punk  Aceh. Karena dianggap “menggangu”. Aparat menangkap mereka, memotong rambut mereka, membersihkan badan mereka dengan memandikan di kolam, lalu akan dibekali pendidikan etika, moral bla bla bla.

Sekarang ketika aparat berbuat sedemikian rupa kepada anak punk, apakah mereka sendiri berani menggunduli, menggunduli kepercayaan mereka.  Atasan-bawahan mereka yang “menggangu”, apakah mereka berusaha mem”benar”kan tubuh-moral mereka sendiri? apakah diri-diri aparat terhormat itu sudah “bersih” adanya?

Mereka, punk, hidup di jalan, sebagian menganggapnya hina, tapi mungkinkah yang menganggap hina itu sudah yakin istimewa.

Mereka hidup ditempat yang dianggap kotor, berpakaian lusuh, tidur beralaskan emperan toko, beruntung jika kardus sebagai alas. Tapi apakah mereka yang berpakaian bersih, hidup mewah “nyaman”, tidur dengan kasur empuk samadengan penampilan mereka, lebih “sehat”?

Mungkin juga ada sebagian dari mereka yang ikut-ikutan, gaya-gayaan, apakah merugikan mereka yang berbicara lantang menutupi kebobrokan mereka dengan gaya-gayaan. Lebih baik mereka kalo begitu menurut saya, ketimbang harus berbaik hati dengan acara-acara televisi yang telah merenggut waktu hiburan pagi anak-anak, jadi badut-badutan, dengan lagu-lagu yang,  ah! :)

Toh mungkin dari kita “merasa” seperti sudah mengenal mereka hanya dengan memandang dari kejauhan, mencium dari kedekatan, ah! :)

Ah, saya sedang bergurau di padang rumput yang luas. Mengigau dengan rumput-rumput yang tinggi menjulang hampir menjangkau awan, biarlah rumput itu yang menjawabnya, rumput yang bergoyang-goyang mengikuti nyanyian angin, tidak melawan hanya bergoyang. Dan mereka memilih hidup tidak di dalam pot bunga. :D

referensi:

Buletin Mocopat Syafaat edisi November ’11 | linimasa twitter  15-16 desember.

anakawayang_1712

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s