Catatan Jejak Sindoro

console adventures
6 dari 8 jejakers sindoro

“ayo sayap tempe, nyampe jogja makan sayap tempe.”

Itulah yang ada didalam obrolan kami, sembari mengolah lelah menjadi canda. menikmati ketiadaan ketika turun dari gunung sindoro 3 tahun lalu, tanggal besar ketika sebagian Indonesia merasa “merdeka” padahal lihat saja.

Sindoro gunung yang ketika itu lumayan botak (gersang), kami berjalan siang. Lebih menyenangkan memang menurutku jika perjalanan itu dilakukan malam hari. Dengan mendaki gunung siang hari, membiasakan diri dengan namanya tipuan mata.

Belum lama berjalan, teman kami ada yang sudah muntah-muntah, mungkin lelah, sakit d iperutnya kambuh, maklumlah kami dengan sosok saudara kami itu. :D

Perjalanan dilanjutkan, setelah mampir-mampir dan menarik napas panjang di beberapa titik dalam jalur pendakian, kami tiba bersamaan dengan gelap di pos  besar tempat banyak orang beristirahat, memasak air, menyeduh minuman, ada yang memasak nasi/mie, dan kami pun ikut dalam keramaian tersebut. Sapa-sapa hangat sesama pejalan setidaknya tidak menjadikan gelap itu menjadi begitu dingin.

Kita sepakat untuk mendaki lebih ke atas biar, mencari lahan dan mendirikan tenda agar kita lebih dekat puncak, selama perjalanan anging begitu terasa, maklum sindoro saat itu tergolong botak bagiku. dan tentunya semakin tinggi kita mendaki semakin jarang pohon-pohon rindang kita temui.

Setelah dapat tempat seadanya, dan dikira aman, kami mendirikan tenda, berbagi tugas, sebagian yang menyiapkan peralatan masak, menanak air dan menyeduh kopi. Malam semakin larut, Ritual “pestanya” kami akhiri, meninggalkan 16 menuju 17. Di  tenda yang berkapasitas untuk 4 orang, maksimal 5 orang dengan badan lebih kecil, harus kami tempati 8 orang, :D. Kepala dimana kaki dimana, seperti ikan kaleng saat itu, tapi itulah.

Jam 3 pun tiba, melawan dingin dan kantuk, kami bersiap untuk melihat matahari terbit dari puncak, tidak semua teman yang berangkat, beberapa orang memilih tinggal di tenda, ada yang perutnya kambuh, ada yang memang tidak mau.

Menuju puncak kami menikmati matahari yang terbit hari itu, matahari awal menyapa pagi wilayah yang hebat ini. Dan ketika mencapai puncak, beberapa orang menyambut dengan kata “merdeka” sambil bersenda gurau. Ada dangdut juga disini, di puncak ini. Gelombang radio dan kemajemukan gelombang provider pun tertangkap.

Riang bukan kepalang, akhirnya bisa mencapai puncak Sindoro, berdiam sejenak diriku memanjat syukur. Rasa lelah, rasa khawatir, rasa dingin seketika berkurang. Melakukan ritual biasa. Mengambil gambar sendiri, berdua, bertiga, bersama-sama. Menggelar kompor menikmati pagi tujuhbelasan diatas ketinggian kurang lebih 3.155 m dpl dengan kopi, susu, teh, rokok, dan mie rebus, sambil menunggu yang ditenda menyusul ke puncak, menyiapkan tenaga lagi untuk turun. Perjalanan setengah panjang akan menanti. Pulang.

Sayap tempe menjadi topik yang menarik, karena itu sebagian motivasi yang membuat kami tetap menikmati lelah. Walaupun dalam kenyataannya, sayap tempe itupun larut dalam kantuk, dalam peraduan kami masing-masing. :D

Hai saudara, apa kabar kalian? aku masih disini, mengasah pedang yang masih sama, apakah kalian masih dengan pedang yang sama? atau sudah menambah alat tempur lainnya. Semoga kalian menang.

Dan aku sedang berlibur dalam ingatan.hehe :)

anakwayang_1512

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s