Catatan Kaki

catatan kaki

aduh nih tulisan, susah amat dibacanya.

nih lagi orang ngapain juga melongo di depan monitor, gak tau apa ya, orang lagi berenang dalam kata-kata.

3 november 2009, seperti itulah tulisan tangan yang posisinya teratas pada suatu bagian binder yang ku punya. Kembali. Ketika ada illmu baru konon katanya neutron-neutron diotak menambah cabangnya, dan ketika disaat kita berusaha mengingat sesuatu, neutron-neutron itu pun berdenyut.

Tepat pukul 00.02 dibagian kasir sebuah mini market 24 jam yang lumayan tersohor, sebatang coklat bodoh dengan teh botol rasa tolol diharga 14 ribu rupiah, perjalanan tak hanya bermula dari kasir ini.

Tapak langkah dari kamar petak yang menjadi rumah sementaraku, melewati jalan setapak gang, pinggiran saawah lalu menysusri jalan kecill dari selokan ternama, tak kunjung lama, tibalah di jalan raya yang merupakan denyut teknologi kota gudeg ini. di jalan yang juga menjadi rimba belantra dari bliho iklan penggoda nafsu, kios demi kios, denyut api penambal ban, dan hembusan angin dari compressor menjadi hiasan hotel dan persimpangan pun ditemui.

Mulai memilih antara mengambil alan lurus atau berbelok, ludah pun sudah sering keluar dari mulut kotor ini, dan belok menjadi pilihan. Senin hari kian tua ingin segera beranjak pergi menjelang selasa kumpulan orang muda dan motornya yang terparkir seadanya, bak bung trotoar dimalam itu, jalan yang membuka akses antar kampus, 2 kampus besar negara, jalan yang menjadi ladang para penjaja buah.

Gedung tinggi sombong menatap diri, para pejuang roda tiga yang terlelap di armadanya. ada juga yang masih bersenda gurau. Lain sisi beratapkan terpal orange dengan 3 panci besar, entah mereka sedang berbincang apa, apakah berita yang lagi hangat di media atau sekedar mengutuk hari dimana keberuntungan sedang malas menghampiri.

APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas) kedua dilewati, tak ada pilihan yang membingungkan, aku kemudian berbelok, pom bensin yang tutup, pedagang makanan yang sedang bersih-bersih tempatnya berdagang, membereskan perlengkapan dagangannya, ada pula yang masih sabar menanti rejeki, muka mereka seperti bertanya-tanya. langkah mulai tak beraturan, kaki mulai rerasa nyeri, namun tak ingin berhenti disini.

menanti.

anakwayang_1412

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s