Jingga Bercerita

Jingga Bercerita

Pernah kami berkunjung ke suatu tempat hanya untuk melihat jingga itu tampak mengarah barat. Saya datang dari barat, melewati selatan untuk menjemputnya. Dia mengenakan kaos hitam dengan gambar personil The Beatles. Tampak hari itu dia menjadi “Jude”. Mengendarai motor kami membiarkan waktu mulai bercerita.

Dengan satu earphone berdua, musik dari ponselnya mulai membaca cerita, tak lama, memang selera musik kami sedikit menyimpang, kami berdua sengit dalam berselera. Earphone itu pun mutlak kembali jadi miliknya, dia mendengarkan musik dari ponselnya, saya mendengarkan terjemahan darinya. Iya bersenandung, kadang berkata-kata. Suara bising jalan sore waktu itu, membuat suaranya terdengar lebih merdu.

Tempat yang terletak di utara kota, sebuah miniatur tempat bermain terlengkap dan luas. Kami mengunjunginya, cukup lama. Melihat matahari yang terbenam di teluk kota, dengan aksesoris kapal-kapal layar yang di pinggir laut bergoyang mengikuti jejak angin, jenis pantai yang tak mencerminkan bagaimana pantai semestinya, lebih pas jika saya menyebutnya pinggir laut.

Sedikit menghibur diri dengan minuman bersoda, dan sebuah bando berbentuk tanduk yang bisa menyala merah, mungkin saja dia dengan tanduk setan-setanan itu ingin seperti setan-setanan di gambar/stiker yang lebih nampak tak seperti setan kebanyakan.

Sedikit merekam citra tak bergerak, berdua. Banyak merekam cerita. Kami pun pulang dibelai lampu jalanan, berteman dengan murung kota yang semakin tua. Dia tetap disana, saya masih disini, dan sekarang, cerita itu kembali bercerita.

Dengan menulisnya, saya kembali belajar memahaminya dan memulai cerita.

Nobody said it was easy
Oh it’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I’m going back to the start

“Coldplay – The Scientist”

anakwayang_1112

4 thoughts on “Jingga Bercerita

  1. Di utara jakarta itu pula, setelah senja berpamit pada alam, ada degupan jantung yang tak biasa ketika simpul senyum akan kamu daratkan di pipi wanitamu.
    Degup jantungmu makin tak biasa setelahnya, tapi saat itu kamu pasti lega karena berhasil menghirup wangi perempuanmu tanpa jarak.
    :)

  2. senja menggoda saya kadang tapi,
    ibarat wanita senja beragam memaknainya,
    senja warna jingga dengan gelap segera menyelinap,

    ning gunung ketoke lbh baik tapi mungkin jg cuaca berbeda jd kadang digunung senja tak mesti indah, toh ada tuh jingga indah dari kota :)
    (ngemeng opo man) :))

    1. walaupun jingga bukan “warna” inti, hanya perpaduan yang menjadikannya inti, setidaknya bagiku. :D hadir ketika mengantar pulang sang terang menuju gelap dengan menghadirkan terang yang lain, juga mengiring gelap menjemput terang, hehe. horaslah! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s