Pejalan Sepi

Di gang sempit, yang hanya bisa dilalui oleh 1 motor itu. Pintu rumah satu dengan yang lainnya begitu dekat terasa. Kebanyakan disini rumahnya berbahan dari kayu dan triplek. Jarang ada yang terbuat dari tembok, itupun hanya dihuni oleh orang “ternama” dikampung itu. Yang lain hanya menghias dinding mereka dengan poster bahkan koran-koran bekas menutupi lubang di dinding, setidaknya menggantikan cat atau menghalau akses untuk mengintip. Jendelanya jangan kira, itu bukan jendela, melainkan ventilasi se-kotak-nya, tak bisa dibayangkan bagaimana ruangan di rumah-rumah itu terasa. Mungkin lembab, panas atau mungkin, ah sudahlah.

Ilustrasi

Pejalan sepi sampai juga pada tempat dengan suasana seperti ini, setelah melangkahkan kakinya yang kuat, melewati pedestrian kota, yang berubah menjadi parkir, menjadi tempat pot bunga, bahkan ada yang menjadi rumah makan.

Baginya suasana tempat ini tak beda dengan alam pikirannya sekarang, ruwet dan sumpek. Ia berjalan hati-hati dan kadang merunduk untuk menghindar jemuran-jemuran warga yang tergantung seadanya. Anak-anak kecil berlarian riang saling mengejar. Mereka tampak menikmati sekali permainan mereka, dengan kondisi gang yang sedikit basah, mereka tak peduli. Tak jauh setelah berlarian melewatinya, seorang anak terpeleset, dan sontak saja anak itu menangis, temannya sebagian menertawakannya, ada juga yang membantu membangunkannya, membersihkan pakaian yang kotor anak yang terjatuh, sambil membujuk untuk tidak menangis lagi, lalu mereka berlari lagi.

Ada ibu yang sedang meninabobokan anaknya yang rewel menangis, di dahi si bayi terlihat irisan tipis bawang merah yang ditumbuk dan berminyak, dipercaya bisa menurunkan panas.

Pejalan sepi berhenti di sebuah rumah agak besar yang dijadikan warung kecil, depan rumah ada meja berukuran sedang dan bangku panjang yang bisa menampung 3 orang berbadan biasa. Ia pun memesan kopi, dan memantik api dari korek kayu yang bungkusnya sudah remuk tak lagi kotak,  rokoknya yang tinggal 2 batang dibakarnya satu, satu lagi ia taruh di meja.

Dalam penantiannya, toh anak-anak itu masih bisa berlarian, ibu yang masih sabar dengan bayinya yang rewel. dan wajah tetangga yang resah masih bisa berbincang ramai perihal sepinya hari mereka. Bapak separuh baya dengan kaus dalam putih cenderung biru begitu nikmat menghembuskan asap dari mulutnya, melihat birunya langit yang tampak mengintip melewati atap rumah.

anakwayang_0912

sumber gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s