Hei Jingga Namaku Jingga

Namaku jingga, aku tidak ingin terkenal, maka kata perkenalkan mulai kukurangi ketika bertemu orang baru, maupun orang lupa. Aku bukanlah siapa-siapa, dengan ini, dengan itu, dengan seragamku, dengan kendaraanku, dengan semua kepunyaanku tetaplah aku tidak ingin menjadi siapa-siapa.

Mereka biasa memanggilku Jing. tanpa penekanan tentunya, namun ketika panggilan mereka tak terbalas sigap, biasanya Jing itu keluar dengan tanda seru seperti ini, “Woi Jing! denger gak sih lu? dengerin napa gue ngomong”.

Aku, Jingga, aku menyukai pensil entah kenapa pensil itu membuatku tenang, pena dan spidol belum bisa membayar ketenangan yang diberikan pensil, dan aku bukan seorang yang selalu satu paket, sering kali penghapus yang katanya teman pensil itu, tertinggal, sering hilang, dan terlempar.

Aku, Jingga sering kali membiasakan diri kehilangan pikiran sejenak dengan asap yang membumbung keluar dari mulut, pikiranku hilang kubiarkan imajinasiku yang bermain, terbang-terbang tanpa sayap, terkadang mampir ke bentuk manekin berwujud manusia yang dianggap sempurna untuk sebagian orang.

aku, bukan merah, aku Jingga walaupun Jingga ku sebagian ada merah yang mempengaruhi, tapi ku dengan sedikit yakin meyakinkan diriku, aku bukan merah, aku condong ke hitam, ya aku Jingga si hitam.

Ketika orang terlelap kupaksakan diriku meratap, dan ketika orang mulai berkeliaran berkegiatan, kantuk itu hinggap seringkali, juga tak hanya hinggap malah rutin dan berpola.

Aku, si Jingga, tidak ingin mengenal nama kalian, aku akan mengingat kalian, dengan wajah dan cerita yang kalian buat, dengan unik ataupun general, suara kalian, suara tawa dan suara kekecewaan akan ku rekam dalam memori yang terbatas luasnya ini jika saja kepala ini tak membentur pinggir ember kamar mandi, ataupun sepatu yang terbang menghampiri kepala ini.

Namun aku, si Jingga akan senang jika kalian melemparnya dengan senang, akan kusiapkan kepalaku untuk menerima lemparan kalian, lagi-lagi dengan catatan itulah yang membuat kalian senang, kepalaku siap menerima benturan itu.

Aku si Jingga, cerewet dan sedikit pendiam, aku akan cerewet jika saja tembakau cukup padu dengan cacing dalam genangan tenang dan bergembira, kalian akan merasakan begitu cerewetnya diriku ketika kaset dalam walkman ku tak berputar, yang berputar adalah tuning pencari sinyal radio bertuliskan FM dengan tebal, dan aku cerewet ketika kalian juga cerewet, dan lebih cerewet kalo kalian bertindak semuamaunya, cerewetku akan keluar dengan lantunan seperti simfoni Beethoven yang diaransemen ulang oleh band metal asal brazil. Perlahan meledak, perlahan meledak.

Aku pun sedikit pendiam jika lampu jalanan berubah menjadi 3 warna sekaligus, merah, kuning dan hijau menyala berbarengan. Mendadak aku akan diam. Mensunyikan diri, mensepikan sunyi, sesekali mencari tahu resistor atau tikus mana yang membuat mataku bisa menipuku, dengan membiarkan melihat 3 warna itu sekaligus hadir dan berhasil diterjemahkan.

Aku si Jingga, aku Jingga si hitam. Yang siap meledak seperti ucapan meledak di lagu Ambulan Zig Zag ciptaan penyanyinya, Iwan fals.

anakwayang_0712

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s