Memori dan Perahu Kertas

Ah nulis ah. ketik deng. :D

Ketika saya ini sedang memanfaatkan waktu menunggu untuk giliran mandi, saya mencoba menggapai awan istilah kerennya “bengong” itu sambil mendengarkan om bob dylan bernyanyi. Cuk..u..cluk seorang kawan datang membawa ember yang berisi rendaman cucian, sambil pelengah-plengeh si dia kawan serumah kontrakanku itu berlalu meninggalkan kamar dan ember sakti tersebut.

Sebelum si empu ember datang, ternyata eh ternyata, hasrat iseng berujung judul tulisan ini terjadi. Melihat genangan air didalam ember tersebut, saya pun berniat membuat sebuah kapal kertas, setelah mencri kertas disekitaran saya akhirnya kertas bekas bungkusan cuci film saya gunakan, namun teng-terenteng saya gagal mengingat bagaimana perahu kertas bisa dibuat, inilah kegaglan saya menjadi penjahil, saya lupa!

Tak lama berselang sang empu cucian datang, lengkap dengan handuk yang menghiasi tubuhnya,*apaan coba*. Saya berkata, “yaaa.. baru gua (setara dengan gw/gue.red) pengen bikin perahu kertas, tapi sial gua lupa gimana bikinnya.” Dan si empu pun tertawa ngece sembari membalas. “searching noh di google” ini terbukti si empu adalah orang yang update, dan mengenal kecanggihan teknologi. Sambil sewot dan setengah ngece dia berlalu melanjutkan perayaan mandi dan mencucinya entah apalagi.

Apakah saya langsung mengetikan 6 huruf itu di jendela pencari web saya dengan kata kunci “perahu kertas”. Apakah setan itu berhasil  menggoda saya. Ah waktu itu tentu tidak,  tidak semudah itu, pertama koneksi inet saya habis masa gunanya, dan saya berprediksi bahwa saya bisa tanpa bantuan si google.

Saya pun mencoba mengingat kembali memori itu, bagaimana membuat selembar kertas ini bisa menyerupai perahu, lipat sana lipat sini lipat sana dan lipat sini, pada akhirnya tawa saya pun lantas membahana, (backsound-jeng..jeng) “heuheuheu goblok.. goblok.. begini toh caranya”. Ternyata prediksi saya benar, saya berhasil mengais memori tentang bagaimana perahu kertas itu berproses. Dan tawa kecil pun terus saya lantutkan sekadar menertawai diri sendiri.

Inilah bukti keberhasilan merajut (sedikit) memori itu :

perkas
perahu kertas nampak dekat
perkas
perahu kertas nampak sangat dekat
perkas
perahu kertas nampak sedikit jauh

Perahu kertas samadengan perahu yang dibuat dari kertas, dilipat-lipat kemudian berbentuk perahu. Mungkin pembaca yang budiman pernah sampai pada etape kehidupan ceria dimana mainan ini menjadi bumbu keisengan hari-hari pembaca yang budiman.

Perahu yang murah meriah ini biasanya dulu, dijadikan ajang mengisi waktu hujan atau sehabis hujan, dijadikan wahana mengalihkan waktu luang ketika melarikan diri dari tugas tidur siang, atau semacam membumbui kebosanan dalam kelas ketika guru yang mengajar hanya berbicara dengan siswa-siswa tertentu.

Perahu kertas titik dua perahu yang mudah rusak. Karena dia terbuat dari kertas dan wilayah mainnya adalah di air bukan di tanah. Perahu kertas pun sering dijadikan salah satu cabang keisengan dengan membalapkannya dalam parit, got, selokan dan kawan-kawannya. Ketika arus deras atau tenang, menang kalahnya (biasanya) ditentukan  dengan siapa dulu yang sampai garis akhir, bila terasa hambar/ kurang menantang maka sering juga disisipi dengan rintangan atau diberi beban. Perahu siapa saja yang berhasil tetap berposisi wajar setelah rintangan itu sebagaimana perahu yang berhasil menerjang badai, maka dialah pemenang!

Dan tentunya tidak pas rasanya peribahasa menang jadi arang, kalah jadi abu untuk kami dulu. Karena kalah atau menang korbannya adalah buku catatan sekolah, koran bekas maupun kertas-kerja bapak yang tergeletak (nampak) tak berguna, karena kecerian dalam keisengan kami tetap terjaga dan menjadi tujuan yang mulia.

Oh perahu kertas, betapa bentukmu mengajarkanku ilmu, bengong itu ada baiknya disertakan dengan keisengan. Siapa mengerti akan menghiburmu, minimal merajut memori indah masa lalu.

Perahu kertas masihkah kamu terapung dengan wajar, saya sangat berharap begitulah adanya, sesuai dengan memoriku untukmu.

Lagi ngidam naskun dan atau lonsay, 3 Desember 2011.

anakwayang_0312

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s