Angkuh

Kamu, aku, kita punya kekuatan yang sama untuk memperjuangkan hal yang menurutku sakral, yaitu kesetiaan.
Kalau setiap kita mencari kebahagiaan pada akhirnya, kenapa kamu begitu angkuh merasa kuat untuk terus didera?
Kamu tau berapa banyak paku yang aku tebar ke kepalamu, lalu kenapa kamu diam?
Ini bukan salahmu!
Lirih aku mendengar bahwa aku bahagiamu. Masih?
Kamu batu, aku batu. Ada percik api yang menyulut jika kita dipaksa bersatu. Tapi akan membentuk dinding kokoh jika kita hanya diam tanpa berinteraksi satu sama lain.
Kenapa harus menunggu rintik jingga jika cercah sinar mentari menunggu sapaanmu.
Dan kenapa pilihanmu adalah menunggu?
Sementara waktu yang kamu tunggu adalah waktu menghancurkan lagi keping hati yang belum sempurna tersusun ditempatnya.
Kamu berhasil memelihara kasih tanpa kebersamaan yang nyata, hingga rindumu berhasil membuat gelisah.

KKP,
Surel tanggal 7 November 2011 | 8:28

2 thoughts on “Angkuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s