Matahari (yang) Merindukan Hujan

Ketika harum busuk dari tawa-tawa telur itu tercium riang, saat itulah waktu pun berbicara lantang padamu, mengiringmu untuk tetap menyinarkan keramah-tawaan, waktu-waktu yang telah kau nikmati kini lebih sedap dirangkai menjadi senyum renyah yang segar ketimbang menjadi senyum sesat sesaat.

Sorak-sorak gembira yang kau rayakan atau tidak. Tawa riang atau gelisah yang kau tularkan, Kebosanan dan ketidaklucuan yang terkadang kau lemparkan tentu menjadi tumpukan cerita yang menarik untuk dibaca.

Dengan segala ketidaktahuan saya dan keberlebihan tahu-tahuan saya bukan berarti saya ingin menilaimu, saya bukanlah seorang guru, tak berhak menilaimu, apalagi menghakimi mu dari nama saya nama kau saja tidak ada unsur ke-hakim-an. biarlah angin malam waktu bagianmu yang bercerita padamu, putaran roda langsing yang menampar aspal tiap waktumu, berdoalah seluruh sel bumi untukmu.

Hujan yang seperti kau harapkan tentunya sudah ada yang mengaturnya, usahamu semangatmu yang pernah atau tidak pernah pudar, janganlah seperti halnya cat air pada kertas buram fotokopian bahan ujian, usahakan dilaminating terlebih dahulu. Semangatmu, usahamu bisa lebih awet dari itu, walau semua makhluk dibumi ini tahu tak ada yang kekal sekalipun formalin.

Sikapmu yang menyerupai matahari sering dirindukan sadar atau tanpa sadarmu. Walau juga matahari terkadang (tidak lupa) ingkar janji dan membuat greget orang yang didekatmu. Semua itu pastinya seimbang, seimbang menurut takaran dan penafsiran masing-masing.

Tak masalah yang merindukan hujan atau hujan yang merindukan matahari, toh ketika matahari terik yang disertai hujan pun selalu mempunyai cerita, mereka sendiri-sendiri memiliki kegemaran dan penggemarnya.

Matahari yang menuggu hujan, menunggu tidaklah selalu membosankan, walau membuat (kadang) berpikir bingung, apa mau apa, tak habis pikir. Hujan yang lebat, rintik, gerimis tetaplah air materinya, dengan sedikit atau banyak campuran bisa menjadi batu atau es. Tapi belumlah ada cerita hujan bermaterikan ketimun pahit, maupun hujan jambu dengan jambu yang kalah besar dari bijinya. Hujan jengkol maupun petai tak pernah terjadi, tentu jangan sampai terjadi.

Hujan dengan matahari yang pas dengan hasil akhirnya adalah pelangi yang indah, dengan kumpulan-kumpulan ketakjuban. Pelangi yang konon katanya jalur bidadari untuk turun ke bumi. Itulah katanya. Tapi hujanmu adalah bidadari pilihan hatimu saat ini, monster hujan, maupun malaikat berwujud monster, entah kapan akan berakhir.

Engkau matahari yang merindukan hujan. Berharap hujan selalu menemani ketika terikmu berlebih, membuatmu sejuk, membuat sejuk di sekitaranmu.

The Kecret
Lamputaman (1209). Namanya sebut saja Bunga, korban penganiayaan ini nama panjangnya bukan bunga citra lestari, tapi "bungalah sampah pada tempatnya". Orangnya pemalu sangat pemalu, hingga orang beranggapan dia adalah orang yang malu-maluan dan malu-malusih. Itu bukan wajah aslinya, wajah aslinya lebih kalem nan urakan. (lamputaman/anakwayang)

Bersahaja bagimu. Belum tentu bagi mereka. dengan kue sisa raya-rayaan dan minuman berbotol lucu, berasa unik, berkekuatan memori, dan sebungkus olahan tembakau bepredikat A pada bungkusnya walau itu bukanlah idolamu, tapi itulah yang ada saat itu. Sengaja.

Tamparlah kelancangan ini, jabatlah senyum tidak orisinil kami. Dan, Engkau tetap seorang yang tak takut akan cahayamu sendiri hanya segan yang kau katakan. Dan tetaplah menyukai hujan baik hujan diseberang lautan itu yang dengan sukamu kau acak-acak mahkotanya, atau dengan hujan lainnya dengan sukamu yang juga lain. Sudah saya bilang saya tak akan memberikanmu selamat, hanya dirimu sendiri yang (pantas) memberikan selamat.

Sekali lagi semoga!

Lagi sekali lagi, Dan Engkau tetap Matahari.

AnakWayang_1609

Teruntuk seorang atau bukan orang, karena entah apa yang cocok sebutan untuknya teman, kawan, saudara, sahabat atau entahlah itu hanya sebutan. Maaf saya hanya orang-orangan. Eh iya minuman energimu bermuka banteng yang bertubrukan waktu itu, sekarang di depan saya bersama rentetan karakter menghadapi pagi di meja yang sempit ini. hehehe.

Sampai bercerita lagi. Viva la Monster! 

Lampudapur (1209), Wajah asli "bungalah sampah pada tempatnya" tanpa editan, dan semua orang pun tahu bahwa ialah wajah bunga yang kalem nan urakan itu. (lampudapur/anakwayang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s