Bola Sudah (sedikit) Besar

Ketika bola masih kecil kembali memenuhi isi kepala ini. Sedikit kembali mengenang akan cerita bundar itu. Bercerita kisah hidup tentang sepak bola yang sempat menjadi impian. Dan ketika permainan digital dari makhluk bernama Sega dan Nintendo masih menjadi momok bagi orang tua. Permainan nyata jadilah kebiasaan.

bagi bola bagi cerita

Waktu sekolah dasar dulu, tampilan sudah bisa dibilang terinspirasi dengan pemain sepak bola. Sepatu (harus) hitam dengan kaos kaki putih yang panjang, itulah keseharian tampilan ke sekolah.

Disana sekolah merah putih pertama. Bermain bola sebelum bel masuk kelas, atau pas ketika sedang waktu istirahat. Bermain Bola di pekarangan lebih tepatnya, bukan lapangan, tapi tetap saja disebut lapangan. Lapangan SDN 3 Tomalima, Passo-Ambon, tidaklah persegi persis, tidak simetris. Gawang kawan dan lawan seringkali tidak sejajar. Lapangan yang tidak rata, menanjak disalahsatu sisinya, lebih banyak kerikilnya ketimbang rumput. Kondisi itu lagi-lagi bukanlah halangan untuk tetap berlari mengejar bola.

Keterbatasan tetap saja menjadi nikmat tersendiri dan bisa menjadi cerita. (aw)

Sekolah yang bertingkat hingga lantai dua. Di sekelilingnya banyak rumah abadi dari semen, terkadang hanya tanah, belum banyak yang menggunakan keramik saat itu, beratapkan seng selayaknya rumah biasa, yang jika siang hari dengan panasnya Ambon daerah pesisir yang khas,  begitu terasa kilaunya memantul. Sering kali bola menyasar kesana dan kami yang kecil sering saling tunjuk untuk mengambil bola karena takut melangkahi rumah abadi tersebut. toh  agar permainan berlanjut tetap saja bola diambil sambil bergumam permisi-permisi, entah permisi dengan siapa.

Olahraga jadi mata pelajaran yang ditunggu-tunggu, Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan), apalagi kalau bukan alasan sepak bola adalah olahraga. Walau bahasan guru olahraga tidak melulu sepak bola.

Dan kebiasaan itu berlanjut ketika pindah sekolah, dari Ambon ke Jakarta. Tepat kelas 5 SD cawu (caturwulan) ke 2. November 1998, 2 bulan sebelum kerusuhan di Ambon terjadi. Kata Si Nyak, di Jakarta pendidikan lebih baik, meskipun di Ambon banyak yang baik-baik. Dan harus meninggalkan yang baik-baik itu. Rumah Bu’De menjadi rumah sementaraku sampai dinyatakan lulus sekolah dasar.

Pagi-pagi lebih sering berkeringat ketimbang terlihat segar, di kelas buku-buku catatan dan LKS (Lembar Kerja Siswa) menjadi kipas. Komplek sekolah dasar, SDN Wijaya Kusuma 05 Pagi dan tetangga SDN Wijaya Kusuma 07 Pagi. Kami sering beradu bola karena lapangan yang harus dibagi,  ketimbang harus beradu tinju lebih baik berbagi lapangan.

Bola plastik digunakan kenapa bola plastik? bukanya tak mau apalagi tak mampu, hanya untuk menghindari pecahnya kaca jendela, dan juga kalau diambil guru tidak rugi-rugi amat. Terkadang menjadi kiper, kadang-kadang jadi striker-penyerang. Lebih sering tidak menjadi apa-apa alias apa saja boleh posisinya yang penting bermain bola. :D

Sekolah dari pagi hingga siang hari, siang hari sekolah dipakai lagi oleh SDN lain, kode mereka 06 siang dan 08 siang. Pada sore hari dengan teman-teman dirumah yang kebanyakan adalah saudara sendiri, kami sering bermain bola di jalan kampung, dengan got comberan dipinggir-pinggirnya, kalau bola nyemplung, kaki tangan kepala  pasti bau comberan juga.

.. Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja..

“Mereka Ada Di Jalan – Iwan Fals”

Kalau lagi mau, kami pergi ke perumahan Bank Dagang Negara (BDN) Pesing. Disana jalanannya lebar, banyak lahan yang enak buat bermain bola. Sering bertemu dengan teman sekolah juga lalu bergabung bermain bola. Ada stadion juga disana, tapi hanya untuk mereka yang mendaftar di Sekolah Sepak Bola saja. Jadi kami hanya bisa bermain di pelataran parkir stadion tetap tanpa alas kaki.

Hingga cerita, Sepatu bola berwarna merah dan sedikit putih dengan pull yang berjumlah 12, seragam Juventus dengan sponsor D+ bernama punggung Del Piero nomor 10, dan seragam Inter dengan sponsor Pirelli dengan nomor punggung 10 bernama Baggio itulah paket hadiah dari anaknya Bu’de, Si Mbak dengan kekasihnya. Senang bukan main-main. Akhirnya saya punya seragam sepak bola lengkap dengan sepatu nge-jreng. Tak lama berselang seragam AC Parma juga menjadi koleksi, namanya Buffon bernomor punggung 1.

Hingga suatu saat Jakarta pun harus ditinggalkan, Tangerang menjadi tujuan, sempat tidak mau pindah ke Tangerang. Dengan segala bujuk rayu, iming-iming dan salah satunya dijanjikan akan disekolahkan di Sekolah Sepak Bola. Akhirnya mengerti dan menerima pindah tanpa bola maupun dengan bola.

Tidak mudah memang membuat jarak dengan yang baik-baik. Tapi cerita seperti jarak, layaknya huruf-huruf dengan spasinya. (aw)

Pedagang roti sudah lewat, dan geliat kendaran bermotor sudah terdengar lalu lalang. Pagi sudah datang sepertinya, lampu-lampu penerang harus dimatikan, pemanas air sudah dihidupkan, segelas kopi gelap segera hadir. Sampai berlanjut di gelap berikutnya.

Anak Wayang (1905)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s