Ketika Bola Masih Kecil

Lapangan yang khusus diniatkan untuk menjadi tempat latihan voli itu. Kurang lebih 15 tahun yang lalu.

Dulu ketika Ambon masih menjadi alamat pada tanda pengenal dan surat-surat berharga. Rumah plat merah yang berderet rapi, rumah-rumah yang ditempati kami dan sejawat kerjanya bapak. Tidak jauh dari rumah saya ada lapangan berikut.

Bukan Lapangan Ini

Lapangan tanah yang berpasir, sekelilingnya tumbuh rumput-rumput hijau. Lapangan yang ditakdirkan menjadi lapangan voli, tapi oleh kami lapangan tersebut menjadi lapangan bermain serba boleh, boleh dipakai bermain bola, lompat tali, bermain galasin (gobak sodor), bermain gundu, bermain tinju dan bermain-main lainnya, yang tak boleh hanya bermain-main membangun rumah apalagi istana beneran disana.

Lapangan yang sering membuat koreng (luka) di lutut dan sikut. Telapak dan jari kaki baret (lecet). Karena kami sering bertelanjang kaki menjamah lapangan tersebut, dan sekitarnya yang hidup tumbuhan putri malu berduri. Waktu itu sepatu hanya untuk pergi ke sekolah. Kami bermain bola.

Sebelahnya persis berjarak 2,5 meter, ada lapangan berwarna hijau dengan garis-garis putih, lapangan yang keras, lapangan teruntuk olahraga memukul dan menangkis–bulu tangkis. Lapangan ini digunakan ketika lapangan voli sedang dipakai latihan oleh orang-orang tua.

Disanalah sepakbola mulai menjadi rutinitas tiap sore hari sekolah kami, hari libur bisa pagi dan sore. Tak hanya sepak bola, disanalah pusat kegiatan bermain/berkumpul  anak kecil, anak tanggung, anak besar komplek. Terkadang jauh menjelang sore ketika mentari sedang gagah kami tak menghiraukanya, kami bermain bola. Orang tua kamilah yang hirau.

Bola yang berbahan plastik, dengan gawang yang lebarnya dibuat 3 langkah paksa bocah, dengan penanda disetiap ujungnya menggunakan sendal jepit terkadang batu, penjaga gawang tak paham betul resikonya. Lebar gawang yang mengecil ketika harus bermain di lapangan bulu tangkis, bola gawang kecil tanpa penjaga gawang.

Kami berbagi orang-orang menjadi 2 tim dengan cara mufakat, atau dengan cara suit/gambreng, tergantung yang terlihat batang hidung kakinya di lapangan, jika kurang kami akan menyambangi rumah teman kami, dan berteriak serempak namun tak kompak “namanyaaa, main bola yuukk.”

Kami punya semacam tradisi atau lebih tepatnya perjanjian permainan, dimana kalau tim yang berhasil menjebol gawang lawan dengan cara meng-kopeng (menyundul) bola maka tim lawan yang kejebolan mau tidak mau harus menggendong anggota tim yang membuat skor, menggendong dengan gaya kuda-kudaan, dari gawang satu ke gawang lainnya.

Seakan tak peduli seberapa besar badan mereka. Saya yang dulu kecil dan selalu ramping sering kali dikerjai oleh orang berbadan besar, satu yang saya tebak mungkin karena saya sering mengganggu adiknya. Dengan tergopoh-gopoh menggendongnya, kami selalu gembira riang. Entah kenapa.

Disamping 2 lapangan tersebut berdiri pohon-pohon yang tidak teramat besar tapi cukup untuk sekedar berteduh. Dan sekarang saya pun berteduh dalam kenangan akan kedua lapangan yang mengajarkan untuk terus bergerak. Jika kamu jatuh, segera bangkit, bolehlah sedikit menangis agar mata-mu itu lebih bersih, lalu bergeraklah, tak harus terus berlari.

Bola sedang dalam jari-jari kepala ini siap diumpan esok atau lain hari. Karena teh hangat dan roti kampung rasa coklat pisang keju seharga Rp 1500 sudah siap dinikmati pagi ini. “Syukurlah” ujar Pink Floyd.

Anak Wayang (1805)

Gambar dari sini

2 thoughts on “Ketika Bola Masih Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s