Bincang Pincang Bola

Halaman yang terakhir disentuh pada tanggal 3 Maret lalu, dilanjutkan sekarang pada 18 Mei masih dengan tahun yang sama, 2011.

Bincang Pincang Bola

Beberapa waktu yang lalu, orang-orang dan media ramai membahas kekisruhan induk sepakbola yang bernama panjang, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Suara-suara pendapat sumbang dan analisa dangkal-tajam dari obrolan warung makan sekelas burjo-an hingga ke dalam ruang sidang dengar pendapat para wakil rakyat di Senayan. Dari macam tulisan panjang di majalah mingguan waktu, hingga tulisan singkat yaitu status seseorang di garis waktu halaman biru berabjad urutan ke-6.

Sepakbola telah menarik perhatian mayoritas di negeri mimpi ini. Sebuah kisah klasik tentang pemimpin yang dinilai “gagal”, berbagai model protes ditujukan, dari yang menggunakan video klip musik, demo turun ke jalan, hingga penyegelan kantor PSSI, oleh siapa ya? Ya oleh para pecinta bola baik dari rakyat jelata sampai rakyat melata. Dari yang tulus hingga yang dikasih vulus. Satu yang jelas, walau tidak memungkiri banyak tedensi disetiap kepala, mereka sama-sama inginkan Nurdin dkk saat itu. TURUN!

Kenapa bola tak bisa se-CERIA jaman kecil dulu, kami yang masih bocah dan terlalu naif untuk mengerti apa itu “sepak bola”? yang kami tahu, kami harus berlari, dan berbagi terkadang kami juga menari-nari, 1 tujuannya adalah membuat skor, menjebol gawang lawan, kalah menang bukan yang utama, yang penting senang-senang dengan kawan-kawan.

Dengan warna-warninya tentu tidak memungkiri akan adanya campuran yang menarik. Jikalau pelangi hanya memiliki 1 warna, apakah pelangi itu masih nampak indah?

Berbeda ketika sudah agak besar, dihadapkan apa itu “sepak bola” sebenarnya, dengan komponen klub, organisasi dan para pendukungnya, dengan yel-yel bernyanyi dan atribut berwarna-warni.

Sepak bola itu sederhana, namun untuk bermain sederhana itu tak mudah. Ungkapan tersebut pas ketika sepakbola sudah disusupi dengan kepentingan-kepentingan lainnya, dari ekonomi apalagi politik.

Ada orang yang ingin jadi pemimpin menggunakan sepak bola sebagai cara memperoleh suara, ada orang yang bermain-main dengan regulasi dan perangkat pertandingan dari level atas hingga level bawah hanya untuk menang bursa taruhan. Bola, tak sesederhana bentuknya yang bundar.

Sepak bola, olahraga permainan, olahraga yang menyehatkan. Tak bisakah sepakbola juga menjadi hiburan yang menyehatkan?

Tak perlu lagi mendengar, melihat bahkan merasakan, jatuhnya korban karena berbeda warna, karena keisengan sok-sok-an belaka. Haruskah selalu melihat orang berlari terpincang-pincang, kepala bersimbah darah sehabis mendukung langsung tim idolanya, karena dipukul dan dilempar batu oleh musuhnya yang notabene masih satu kampung, satu daerah. Artinya kalah menang makan korban.

Memang tak perlu semua itu terus berlanjut. Terkecuali memang tipikal manusia di negeri ini senang dengan cerita dan berita yang berbau darah serta kekerasan. Coretan bincang pincang ini masih butuh ruang lebih lanjut. Sekarang, lama setelah Nurdin dkk sudah turun. Prestasi realisitis tentulah harus Naik! Minimal di negeri ngeri ini, bola masih bundar bentuknya.

Anak Wayang (1805)

2 thoughts on “Bincang Pincang Bola

    1. wah bung rayhan ternyata anda tipikal orang di depan layar, cocok jadi provokator :) *loh hahaha terhindar dari lemparan batu bukan berarti aman terhindar dari lemparan gelas. hohohoho :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s