Bingkisan-Bungkusan Untuk Mereka

gila orang orang gila

Siang ini pukul 11 lebih, kami, saya dan seorang “abang” akan menyusuri jalan-jalan di Yogyakarta. Untuk apa? Menyebarkan makanan, sekedar sedikit berbagi.

Ya si abang ternyata punya hajat, ketika saya menghadiri acara sakral pelepasan status mahasiswa, si abang meminta saya, “saya punya hajat, kau mau bantu (menemani)?” “Apa itu bang?” tanya saya. “Aku ingin memberi makanan kepada orang gila” jawabnya. Kau tau dimana aja?” lanjutnya. “Ke Pakem aja bang, disana banyak” jawabku, karena setahuku di pakem terdapat rumah sehat untuk rehabilitasi ke-jiwa-an. “Bukan, bukan itu, aku mau membagi mereka yang di jalanan.” jawabnya lagi.
“Oh ya saya tahu, ada satu dekat lamer kaliurang.” seingatku ada memang 1 orang yang disebut gila disana. Orang gila yang suka membaca koran dan dan bermata satu (berpenampilan bak bajak laut). “Nanti kalau memang jadi kabar-kabaran saja bang,” ucap saya.

Dan benar selang beberapa hari, dan ketika itu hari Jumat. Si abang datang ke sekre, kebetulan saya dan kawan bike lagi disana, si abang mengkonfirmasi perihal niatannya dulu, di Grha itu. Dan saya pun mengiyakan, “besok saya berkebun bang, pulang berkebun kita berangkat, nanti saya sms.” kata saya.

Hari sabtu pun tiba, setelah berkebun saya pulang segera, ponsel saya kehabisan daya, setelah sampai rumah kontrakan, saya pun langsung mengisi ulang baterai ponsel. Selang beberapa menit saya mengabarkan bahwa saya sudah dirumah.
“Oke kamu tidur dulu, nanti aku ke tempatmu” dalam smsnya yang berbahasa jawa. Saya memilih tak tidur, Jam 10 lebih kurang banyak menit ia tiba. Sedikit berbahasa basi, memakan kue dan meminum kopi. Kami sepakat ke tempat nasi itu dipesan, didekat kampus ceweknya, disana mereka memesan makanan.

15 bungkus tersusun rapi dalam kresek hitam besar itu, bungkusan itu berbentuk persegi panjang, berbahan stereofoam berwarna putih, didalamnya ada nasi, ayam goreng, sambal, dan lalapan, tisu serta sendok pun ada. Itulah isi bingkisan makanan yang akan kami bagikan, saya di depan mengendarai motor, si abang menjadi penumpang membawa bungkusan-bingkisan itu. Kami berangkat.

Perjalanan dimulai, dari rumah makan kita menuju tempat sesuai kesepakatan kami, tak lama ada orang berpenampilan layaknya “orang gila”. “suwun.. suwun” ujarnya ketika diberi bungkusan itu. 1 orang. tanya namanya kataku untuk pemberian berikutnya, orang ke-2 tidak menjawab langsung melahap, orang ketiga juga sama.

Orang ke-empat seorang ibu-ibu sedang kelihatan bingung. Namanya Indah Susanti. Nasibnya belum sebagus namanya, ia makan dengan lahap.Pertulangan dilanjutkan, orang keempat. kelima dan seterusnya

* Orang gila di lampu penyeberangan
   Rambutnya gimbal
   Kumis dan jenggotnya jarang jarang
   Membawa gembolan
   Entah gombalan
  Atau makanan

… 

Mengobrol selama perjalanan, tanya-tanya tentang alasan si abang mau begini. Intinya adalah berbagi. Terkadang terucap syukur ketika tempat tujuan kami “sepi” dari orang -orang terpinggirkan secara minimal ekonomi dan kesehatan itu. Seperti halnya di terminal besar itu, tidak terlihat ada orang yang kami cari. Alhamdulillah.

Ketika beberapa bungkusan sudah dibagikan baru teringat bahwa kami membagikan makanan tapi tidak disertai minuman, “wah seret itu, jahat kau bang, canda saya ahahaha ayey,” :) dibelilah minuman berbentuk cup itu beberapa banyaknya.

Selama pembagian itu ada yang meminta disuapin, minta dibenarkan celananya, ada yang menghindar lalu mencampakan bungkusan itu, kenyang mungkin. Selebihnya langsung melahapnya.

Ada juga bernama Ida, dekat jalan layang yang sering dilewati bis-bis antarkota. Ada juga yang namanya Aris, umur 12 tahun jawabnya, padahal perawakannya tidak semuda itu, ya tinggal disini, aris jawabnya lagi ketika ditanya asal dirinya. Mayoritas ketika ditanya tak menjawab.

Ada yang sedang membaca koran, ada yang membawa ketapel, ingin berburu burung dara katanya, da yang sedang terlihat bingung, berbicara sendiri, tersenyum-senyum, ada yang sedang tidur, ada yang lagi duduk, kebanyakan dari mereka lagi berjalan.

“Kok perhatian bener mas?” tanya pengendara taksi. “Itu saudara saya,” jawabnya.

Dari target, hanya 13 makanan yang sempat dibagikan, tak terasa sudah 4 jam kami di jalan. Saya harus segera ke sekre, ada janji mengenai penyebaran pamflet.

* Orang gila di lampu penyeberangan
Apa kabar?
Siapa yang menyapa kamu diam
Tersenyum tidak menangis tidak
Kamu sapa siapa saja
Selamat malam
Selamat malam

* Iwan Fals – Orang Gila (Album Orang gila 1994)

Gambar dari sini

One thought on “Bingkisan-Bungkusan Untuk Mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s