Berat Teror Tiga Kilogram

Kartun Kompas edisi 02 Juli 2010. Karya Didie SW.

Ada kejadian yang konyol se-tadi maghrib, selepas men-ceplok telor untuk teman makan nasi dan gorengan tempe. Saya dan penghuni istana ini, makan sembari menonton kartun spongebob, karena itu hiburan yang pas untuk jamuan makan sore bekal malam ini. Setelah kenyang yang ke-2, hari itu, saya pun tidur-tiduran masih ditempat yang sama sambil bertukar kesah dan konfirmasi akan  janji pergi memanjakan sakit pergelangan tangan sehabis celaka, juga menemani kawan bike yang kakinya sedikit bermasalah ketika bermain bola, sekalian kita kata. Waktu masih kisaran 15 menit lagi menuju jam 7 malam.

Sedang nikmat merasa kekenyangan dan mendengar kesah, penghuni istana yang kamarnya terletak dekat posisi istana belakang (dapur, kamar mandi, sumur, tempat menjemur, dan taman cabe) berlari ke depan dengan berkata “weh bau gas.”

(Kepanikan dimulai) Kaget bukan main, benar saja wangi khas gas bahan bakar itu tercium sekali sampai ruangan tivi yang kira-kira jaraknya sekitar 7 m dari dapur, karena kompor di istana belakang itu sayalah pengguna terakhirnya, dalam benak apakah tadi lupa mematikannya, berteriak penyesalan, “Astaghfirullah” disertai ucapan yang sama dari penghuni lainnya.  Setelah berlari mengecek kompor, ternyata posisi dari puteran gas pada arah yang benar ke atas (vertikal) yang berarti off, namun bau semakin menyengat disertai suara desis gas yang keluar.

Ah langsung saja pengabar berita itu berinisiatif mematikan arus listrik dari KWH meter, tentu bukan sabotase, tapi tahap penyelamatan menghindari percikan api yang bisa memicu itu ledakan.

Berteriak panik bukan main, saya hanya bisa membayangkan bagaimana berita dari media tentang benda hijau ini, nyawa adalah korbannya, begitu juga bangunan dirusaknya.

Setelah kelimpungan bergelut dengan sumber cahaya karena lampu yang padam, kami  akhirnya menggunakan hape sebagai alat bantu, masih terasa tidak begitu membantu senter lah jadi harapannya.

“senter.. senter..” teriakku,

“senter.. senter..”

“Astaghfirullah,” kami bertiga berteriak

“Senternya dimana?” sudah tak tahu siapa itu yang bertanya.

Saya hanya jawab  “senter.. senter.. ada di kamar” saya pun lupa letak senter itu di kamar saya tapi sebelah mananya.

“senter kopet” saya berteriak karena sinar hape tak begitu terang masih digenggaman dan saya berlari depan lalu ke dapur, dalam benak adalah kain dan air alias kain basah. Kami masih sama-sama panik.

“Senterin.. senterin..” satu penghuni membantu dengan sinar hape-nya.

“Kain.. kain..” bolak-balik bingung sambil berteriak.

“Kain.. kain.. woi kain Astaghfirulah gimana ini? panik melanda lagi karena kurang bisa melihat dalam gelap, ah terpaksa handuk rutin pun menjadi pilihanya, walaupun sempat melihat pembungkus sangkar-rumah ipin si burung kenari, tapi rasanya tidak pas.

Setelah handuk digenggaman, kemudian saya ke tempayan-tempat penampungan air berwarna merah yang bersatu dalam ruang jemur-an handuk berserta sumber bencana.

“Air.. air..” saya berteriak kembali. tempayan itu sedikit airnya, handuk belum basah benar, setelah ngacak-ngacak tempayan kemudian saya membalutkan handuk itu ke benda kovet itu. Masih menegangkan ini bahaya masih mengancam. :D

“Cabut.. cabut ragulator-nya cabut..” kata penghuni satunya.

“Cabut.. cabut.. gimana?” saya menjawab. Sambil memegang dua hape ditangan kiri, hapeku dan hape kawanku sumber cahaya ditangan kanan, bingung bukan main. Takut rasanya, teror ini menjadi-jadi bunyi desis gas seolah tak mau kalah dengan teriakan ekspresif kami.

Kain basah itu ternyata menutup permukaan regulator sehingga panik membuatnya semakin kacau jadinya, ditambah lagi hape yang menjadi sinar harapan itu malah berbunyi, haduh.

“Ini bunyi.. ini bunyi” dan diambillah hape itu.

Setelah meraba-raba, akhirnya regulator pun terlepas. Cisssssssssss bunyi itu pun hilang. wangi yang menusuk penciuman pun masih sangat terasa

Penghuni lainnya coba membuka semua bagian istana yang bisa dibuka, dari pintu, jendela hingga tirainya.

Setelah semua sedikit reda kami mencob cari tahu apa penyebabnya, tabung itu kami rendam ternyata tak ada tanda2 bocor dari tabung, kami coba pasang dengan regulator tadi, dan betul saja ketika posis regulator sudah menci bunyi cissssssssssssssss terdengar, Spontan kovet.. kovet.. ternyata benar dugaan bahwa dugaan regulator sumber deg-deg-ser-ser ini.

“Besok beli yang bagus,” kata temanku.

Lucunya (sadar setelah reda) sempat mereka berdua menghindar, berlari mengarah ke depan rumah bukan ke belakang tempat sumber bencana, dorongan penggunaan terakhir yang mengarahkan saya ke belakang, dan itu yang menambah kepanikan saya, “loh kenapa mereka lari kesana?”

“Hahaha kovet.. kovet..” dalam senggang menanti bau gas hilang, kami menertawakan kejadian tadi dan mensyukuri yang terjadi, kami bertiga kumpul di ruang yang bernama garasi itu.

Ah pengalaman teror yang konyol bila mengingatnya, pengalaman pertama yang berharga. Maklum baru bersentuhan namanya itu teror 3 kg beratnya.

Menjadi bahan obrolan disela-sela menunggu, Andai saja itu meledak, mungkin tetangga akan mengira istana itu adalah istana para penyamun perakit bom, secara kami adalah kumpulan orang yang jarang bersentuhan dengan lingkungan, sesekali menegur tetangga, tak pernah ikut kegiatan desa, intensitas terbentuk hanya kepada sebagian pedagang pasar yang sudah menjadi langganan kami berlagak belanja.

Ada kiat dari dunia maya bagaimana jika terjadi kebocoran tabung gas elpiji 3 kg dengan indikasi :

  1. Bau khas gas tercium menyengat.
  2. Terdapat embunan pada tabung elpiji biasanya ada disekitar sambungan pengelasan tabung, neck ring, valve maupun sambungan pada foot ring.
  3. Pada regulator terdapat bunyi mendesis p.

Pertama dan utama,

  1. Tenang, jangan panik, kalau panik pasti kalau bicara tidak pernah selesai alias setengah-setengah dan berulang-ulang, jadinya malah membingungkan.
  2. Matikan listrik dan jangan coba-coba menyalakan api.
  3. Lepaskan regulator, bawa tabung keluar ruangan dan letakkan ditempat terbuka.
  4. Buka akses sirkulasi udara.
  5. Bersabar menunggu bau gas benar-benar hilang.
  6. Bersyukurlah :)
Tips lainnya bisa dibaca di sini

Sumber gambar dari sini

NB : web produk per-ta-mi-na ini ternyata tak ter-urus, ini-ini sungguh terlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s