Terbitlah Terang, Gelap Takkan Habis

kotak labirin

Senang rasanya dan bikin geregetan membaca isi kepala mereka. Bukan karena memiliki kemampuan membaca pikiran, namun karena saya bersyukur bisa membaca lalu menyempatkan untuk berpikir. Dalam hitam dan putih.

Tulisan dari teman-rekan-bahkan orang yang sudah saya anggap sebagai saudara walaupun saya tak pernah memproklamirkan pernyataan ke”saudaraan”-an saya dengan mereka kepada “mereka” semua. Dalam hitam dan putih.

Tulisan yang menarik sekaligus membingungkan, menarik karena memang pada nyatanya persepsi dan olah pikir manusia takkan bisa di”paksa” sama, dari seorang pekerja yang tugasnya berjalan-jalan mengantar barang, seekor ikan yang mengadu si “nasib” dengan si “jalan hidup”-nya sebagai “ikan fungsional”, hingga permukaan tanah yang dipaksa bernama jalan, yang oleh  manusia sebagai pijakan mencari bekal perjalanan hidup, secara “lebar” maupun  “sempit”. Ada juga jalan yang (sengaja) diberi nama jalan tanpa nama, iseng ternyata. Atau mungkinkah jalan tanpa nama itu masih berstatus sebagai “calang” organisasi yang “ber-jalan, berkenaan dengan jalan, jalan-jalan, dan yang penting jalan!”. Dalam hitam dan putih

Oh ya kemarin si Kartini jadi hari, menggantikan standarnya hari, hari yang memang hari kamis. Soal kartini, tidak asing kita dengar atau acuhkan slogan yang selalu khas dengannya, Habis Gelap Terbitlah Terang. Begitulah harapan seorang perempuan, wanita, seorang ibu yang tak lebih hanya ingin “memberontak” untuk sekedar memiliki “jalan” dan “pilihan”, dalam tatanan yang tidak memungkinkan  pada jamannya. Dan Kartini menulis takdir dan idenya, Kartina menulis cerita dan mimpinya, Kartini menulis harapan dan sejarahnya. Kartini ditulisnya. Dalam hitam dan Putih

Berterima kasih saya kepada hitam, karenanya putih selalu menjadi memiliki gambaran baik. Namun selalu berharap agar putih tidak lupa bahwasanya dalam ke”hidup”an dasar putihlah yang membuat hitam menjadi terang.

Wow sebentar lagi terang akan datang, namun sekali lagi hitam takkan habis. Karenanya hitam yang setia, yang selalu menemani ketika putih terlelap dan sedang melancong di belahan lainnya, kepada hitam yang memberi nafas kepada sendi-sendi otak brondol ketika terang begitu sibuk dan berpolusi.

Saya rindu dan berusaha memelihara rindu ini, rindu kepada si hitam tiap minggu itu. Isi kepala yang ragu dan jari yang iseng membuat mata resah gembira. Terbitlah terang (putih), Gelap (hitam) takkan habis.

Selamat Bumi, ini harimu! sampaikan maaf saya kepadanya ya wahai Bumi. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s