Sepeda dan Kereta

Para pesepeda yang menggunakan jasa kereta api (Gambar: Antara Foto)

Mengayuh sepeda berbaris barang tiga orang. Saya hitam di depan, lanjut merah dan terakhir biru. Mulai dari sebuah tempat pendidikan, mampir ke tempat pen-dudukan, dan menuju ke tempat per-keretaan-an — stasiun kereta Lempuyangan sekedar bertanya bolehkah sepeda kami menumpak sepur.

Rencana kami akan mengadakan perjalanan ke Solo menggunakan kereta Prambanan Ekspress (Prameks) tujuan Jogjakarta – Solo, dengan menyertakan/menaikkan sepeda ke dalam kereta. Supaya di Solo kami bisa bersepeda menuju tempat-tempat yang diinginkan. Namun setelah bertanya-tanya pada petugas yang ada di stasiun, sepeda tidak boleh dinaikkan ke kereta Prameks. Sepeda kami bukan sepeda lipat yang bisa seukuran koper, namun berjenis road bike (semacam sepeda balap).

Petugas itu menyarankan untuk menggunakan kereta Sri Tanjung, kereta ekonomi  jurusan Jogjakarta (Lempuyangan) – banyuwangi yang berangkat pukul 7.30. Sepeda bisa dinaikkan pada gerbong barang. Untuk biayanya? “nanti ada petugas di gerbongnya mas,” kata petugas itu.

Kami nongkrong sejenak di pelataran. Lalu ada seorang bapak pengemudi becak stasiun mendekati si merah dan bertanya-tanya. Pertanyaan mendaji perbincangan, ternyata beliau adalah mantan pembalap pada jaman mudanya (sekitar tahun 70-an) sayangnya saya lupa bertanya nama beliau. Beliau memberi sedikit tips kepada kawan bike biru saya bagaimana memilih sepeda balap yang bagus. Singkat cerita sepeda balap yang bagus katanya bisa diangkat menggunakan 1 jari (ringan).

Kemudian disela-sela obrolan saya berujar dengan kawan bike biru saya, “kalau benar beliau adalah atlit (dan pernah mewakili Jogjakarta), betapa jaminan masa tua seorang mantan atlit masih saja (sengaja) dilupakan.”

Kurang 15 menit lagi berganti hari kami bertiga hitam, biru, dan merah pulang karena saya harus “bertani”. Kami sempat mampir ke sebuah tongkrongan beratapkan terpal oranye, untuk sekedar membeli es teh dan tempe goreng.

Akhirnya rencana perjalanan ke Solo kami tunda. Kereta tunggulah sepeda kami. Sampai ketemu pada rencana berikutnya. Semoga bukan hanya rencana. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s