Tunggu Tugu Tunggu!

Tugu Jam TUGU

Sekitar 4 jam lalu, di pintu timur sebuah stasiun besar Tugu. Tepat di bawah lampu khas kota “Tugu” ini. ditemani 2 buah sepeda 1 milik saya dan satunya milik kawan dalam, yang rencananya kami akan bersepeda dalam terang lampu.

Kawan sedang ada urusan sebentar dengan kawan-kawannya. Katanya sedang ingin membuat frame-frame yang bercerita. Saya membiarkan dibiarkan sendiri. Tunggu tugu tunggu!

Bermodalkan pemutar lagu bertenaga lithium, dan sebungkus cemilan ringan dari olahan tembakau.

“Kring… kring. kriing.. suara dering pesan dari ponsel yang tenggelam dalam deru kendaraan, ada pesan singkat masuk”. Sebuah undangan untuk menghadiri rapat. Balas.

Setelah berbalas ria, saya masih memegang produk kreasi manusia itu, sebuah alat komunikasi yang lumayan mumpuni, tak hanya bisa bersapa suara dan berbalas teks singkat hingga singkatan, simpan kembali. Tak lama saya ambil kembali ponsel berjenis cangkang kerang itu, ponsel yang bersemayam di tas mini sebelah kiri pingang saya, membukanya.

Menekan papan ketik Menu > Pesan > Draf (6) > Hai Lumpur?H (terpotong layar) > Edit.

Penanda karakter berkedip dilayar portrait itu.

Hai lumpur?

Hai Banjir?

Hai ulat?

Hai Puso?

Hai Magnitudo?

Mereka Mampir, bersilahturahmi. Tak cuma sekali.

Mereka datang memberi salam. Memberi peringatan.

Berbaiklah padaNya.

Atau kita sudah terbiasa. Lupa dan Lengah.

Dan kita seperti riak dalam kolam renang maha luas.

balik

Hai lumpur? H (terpotong layar)

Menekan navigasi ke bawah

Terbuai suasa (terpotong layar)

Edit

Terbuai suasana yang penuh warna.

Lebar dan menusuk mata.

Etalase yang mewah.

Coba masuklah, rasakan dan cermati.

Itu hanya tipuan belaka.

Merayu lalu membunuh.

Tidakkah kalian bertanya.

Tidakkah kalian merasa ragu.

Berbisiklah. Tak terdengar.

Berbicaralah, masih belum terdengar.

Teriaklah!

Aksi langsung jadi keharusan, RUBUHKAN!

balik >> Draf (6) >>balik >>Pesan

Kembali ke tampilan Awal layar ponsel dengan gambar belakang dominasi hitam dan senyum simpul kecil.

Tutup.

Lalu kembalikan lagi ponsel itu ke tempatnya bersemayam.

Kawan dalam datang, Fuad namanya. Lalu kami sepakat menuju ke Angkringan Wijilan. Selamat Makan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s