Tut Tut Butut Kereta

Sambung lagi ah dari coretan pertama tentang kereta yang bernama Kereta Tut Tut Butut, Perjalanan yang pura-pura, pura-pura senang, yang pura-pura capek, semua itu sedikit terobati kerika mendapatkan tempat duduk yang benar-benar kursi bukan lantai kereta. Sempat tertidur dengan gaya kaki terlipat dan kepala bersandar pada dengkul. dan saya masih terbilang beruntung, jangan sampai lagi saya rasakan bagaimana tidur berdiri menjadi seorang bangau dengan kaki satu karena kereta penuh sesak manusia dan kardus.

Stasiun Kiaracondong (diatasbumi/kobain)

Setelah kian lama ternyata tempat yang sudah saya incar sedari naik, telah berganti penumpang, ah sial! Setelah menghabiskan beberapa batang, celingak-celinguk ahirnya saya melihat gelagat surga. seorang penumpang yang mendapatkan tempat duduk sedang bersiap-siap dengan barang bawaanya. Insting nyaman saya pun timbul sembari berjudi akankah benar orang ini akan turun sebentar lagi, atau hanya ingin bergaya sembari mengecek barang bawaanya. Ya saya tinggalkan tempat bersemedi, lalu berjalan menuju ke orang tersebut. Sekalian berdoa, semoga saya menang judi kali ini. Dan akhirnya orang tersebut terlepas dari belenggu judi saya, ia turun, saya menang. Selamat tinggal koran persiapan. Terima kasih :D

Samping saya seorang ibu, ia tidur bagai bayi, lelah sepertinya, depan saya sepasang tua-tui, orang-orang senja. Tepat didepan saya adalah seorang bapak senja. Ia sepertinya bingung, saya apalagi. :D Si ibu senja masih tertidur dengan bantal sewaaan kereta yang dibanderol 3000 saja.

Ah, akhirnya. slayer hitam saya rapikan, slayer yang jadi pembantu penghalang wangi sang-sing toilet kereta itu. Saya nikmati yang namanya kursi kereta, lagi sebatang saja saya nyalakan. Saya buka surga lainnya sebuah buku bergenre novel, Bilangan Fu karangan Ayu Utami, Si Bapak Senja itu mengintip buku yg saya pegang, intipannya saya balas dengan cengiran. Namun Si Bapak Senja melongo datar. :D Jam ini jelajah saya bertambah halaman demi halaman.

Jam berlalu, tepat pukul 7 pagi kurang saya tiba di tujuan stasiun kiara condong bandung. Leganya. 1 finish sudah. masih 4 finish sampai rumah. bergegas turun lalu menuju bangku tempat tunggu penumpang, celingak-celinguk ada pak satuan pengamanan stasiun saya mengampirinya, bertanya.

“Pak kereta yang ke jakarta jam berapa ya?” hanya ingin meyakinkan diri dengan modal informasi dari seorang teman di Bandung, kereta hampir tiap jam ada, paling malam jam setengah 8 kalo tidak salah mengingat.

“Kereta ke Jakarta nanti siang kira2 jam 1 an,, kalo EKONOMI.” jawabnya. Hah yang bentar lagi ga ada ya. tanyaku

Gak ada a’ coba liat di jadwal a’ silahkan, jwabnya lagi.

Ternyata benar informasi dari teman sayam bahwa kereta hampir tiap jam ada, tapi itu BISNIS bukan EKONOMI. :D

Setelah bertanya kepada petugas loket, tiketnya adalah teng terengteng 50 ribu a’. cengirlah saya, saya menyengir, nyengir-nyengir. :D

Tanya banyk sama pak satpam lagi, dan dia menyarankan untuk nyambung lagi dari purwakarta, nanti ada kereta jam 8 pagi kurang 15 yang ke purwakarta, A’ bisa nyambung lagi ke Jakarta dari sana. Okelah :D

A’ tiket ke Purwakarta 1. dengan uang 20 ribuan dan karcis saya dapatkan beserta unag kembalian 16500. Tiket dari Bandung ke Purwakarta hanya 3500. Kereta Diesel lagi.

Setelah tiba, berjubel kembali dengan manusia dan barang, alhamdulillah saya masih bisa menikmati pintu kereta sekaligus pintu toilet. Tut tut kereta butut banyak yang nurut tapi yang punya kereta butut malah banyak nuntut kepala saya jadi cenat-cenut.:D kereta oh kereta masih begitu saja. udahan dulu ah bersambung lagi.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s