Bebas Karcis, Bebas Parkir

Permasalahan klasik sebuah perkotaan akibat dari buruk tata kotanya adalah perpakiran. Entah kenapa ini selalu menggangu saya sebagai pengguna jalan.

Parkir yang seyogyanya sebagai tempat penitipan sementara tak lagi nyaman dan terjangkau. Yang ada hanya terlihat semrawut dan suka-suka.

Semenjak saya menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama, kendala tersebut sudah mulai berkurang tetapi masih mengganjal adalah fasilitas parkir untuk sepeda yang minim, yang tidak nyaman, tidak aman, masak sepeda disamakan dengan kerupuk terjemur bebas dengan terik.

Parkir sudah menjadi bisnis tersendiri, tentu kalau kita berbicara bisnis output-nya adalah keuntungan. Dan keuntungan itu menjadi pertanyaan, bagi si petugas parkir, atau atasan petugas parkir, atau kepada siapa?

Terkadang saya jengkel dengan petugas parkir yang semena-mena, layaknya raja kecil yang memiliki tanah untuk disewakan pada kendaraan, perjam-nya  sama saja per-menitnya tak ada toleransi.

Yang saya salut adalah mereka petugas parkir yang benar-benar membantu kita dalam ketertiban. Tak hanya menggunakan seragam penegak disiplin namun sembrono.

Kembali pada persoalan perparkiran, adakah keinginan pemerintah untuk merubahnya lebih baik. Misal kita ambil contoh dengan menjadikan lahan parkir pada pusat keramaian hanya 1 tempat, dengan menggunakan gedung bertingkat khusus parkir. lantai 1 untuk sepeda, lantai 2 untuk motor, lantai 3 untuk mobil.

Pastilah ada saja alasan tetekbengek dari pihak terkait. padahal kalau memang niat, hal tersebut bisa terwujud.

Lalu pertanyaannya berikut kemana mereka yang tadinya sebagai petugas parkir? akankah kehilangan pekerjaan mereka. Menurut saya itu bisa disiasati dengan adanya paguyuban perpakiran misalnya. dengan begitu para petugas parkir yang bernaung di dalamnya kebagian jatah berjaga dan tetap memperoleh rejeki.

Dari hasil parkir, bisa digunakan untuk perbaikan infrastruktur, baik jalan dan kelengakapannya, percuma memiliki fasilitas parkir yang baik, namun jalannya berlubang, tambal sini tambal sana, dan gelap tanpa penerangan di malam hari.

Dengan berpusatnya parkir tentu banyak yang didaptat keuntungannya, misal saja trotoar mau tidak mau harus baik, karena trotoar yang tadinya digunakan untuk parkir sekarang bisa dinikmati. Orang akan sering bersapa. Dengan budaya berjalan kaki dari satu titik ke titik lain dapat menghemat energi. Polusi pun bisa berkurang kadarnya.

Mungkin saja, memang para petinggi di negeri yang kacau ini sudah tertutup mata, telinga dan hatinya dengan asap kendaraan bermotor sehingga kendaraan menjamur bebas layaknya lumut di musim hujan.

Semoga saja etika keteraturan tak hanya berlaku di rumah, namun di jalan, ditempat yang lebih membutuhkan sentuhan hormat, rasa aman nyaman dan saling mengerti. Merasa merdeka dalam arti sebenarnya bukan slogan semata, bebas karcis, bebas parkir.

One thought on “Bebas Karcis, Bebas Parkir

  1. Semua ini diakibatkan karena padangan terhadap orang pengguna sepeda adalah orang yang memiliki kelas menengah kebawah. Jadi dianggap remeh oleh beberapa pihak, terutama tukang parkir. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s