Coklat Bike

Saya suka berjalan melingkar, terkadang masuk lubang, melewati genangan air, bergolak pada ketidakrataan struktur.

Hari itu hari kamis, hari setelah hari rabu, dari kamis pagi hingga malam hari saya diam dirumah, dirumah yang penuh kediaman, bersama teman yang besar dan berisik, bersama teman yang berwatak kawat.

Hari ini saya ingin bermain, malam itu, setelah sempat menunggu, lama juga ternyata terdengar sering kring kring yang nyaring dan lama, terdengar keluh, dan bunyi benda yang berbentur.

Sudah sekian menunggu akhirnya saya jalan, terlepas dari keramik, tanah dan bercumbu dengan aspal. Berkelana dengan teman berwatak kawat. Melewati jalur yang biasanya ramai pada jam hidup, kemudian jalan pintas menuju sebuah sub terminal yang terlupakan, ada pohon beringin besar di seberangnya. Lalu mencampakan lampu merah yang enggan menyala, berbelok kemudian lurus.

Menyeberangi jalan besar, jalan penghubung antar kota. Kemudian melewati jalan 2 jalur yang sempit, kawasan dimana para mahasiswa tinggal. Sampailah pada tujuan. Kawan sudah ada yg tiba, dengan gagah iya menunggu. Saya mendekat lalu diam.

Tepat 1 jam pertama hari jumat, teman berwatak kawat memutuskan enggan bergabung. saya dan 1 teman mulai perjalanan lagi menyusuri jalan berlubang. dan tiba pada lampu merah, perempatan jalan yang macet pada siang hari ada kampus disitu membelah jalan. rel, stadion, kuil, pusat lektronik, toko kaos langganan, lapangan parkir dengan kios-kios dulu merupakan kios sepeda yang sekarang jadi kios-kios kelengkapan sepeda+motor. berbelok kanan, dan berhenti di sebuh toko serba ada. saya lalu diam bersandar.

Sebentar saja, lalu saya jalan kembali menuju tempat akhir sebuah perisitirahatan. terdengar suara keluh pesing, dan kesepakatan untuk berpijak, lalu saya dan teman saling bersandar menghadap jalan hitam putih.

Mendengar dialog karuan, dari ujung organisasi, hingga penyesalan karena mengkonsumsi coklat yang menjadi tema (konsumsi utama) hari ini. minuman coklat makanan coklat, coklat bike! Asap mengepul, kertas beserakan, adu argumen, hingga sekian waktu. saya pun berjalan pulang.

Melewati jalan yang tak biasa, setelah sekian jalan, teman mengalami gangguan, organnya ada yang miss. berhenti sejenak, dan teman berpendapat bahwa ia baik kemudian kami berpisah.

Dan hujan pun turun saya basah, berhenti dan tetap basah, adzan sempat terdengar. saya tetap basah.

Berkubang dengan genangan , menghindari lubang yang menyamar. mendaki, tibalah kembali, alur aspal, tanah, lalu keramik. Saya pun bersandar, lelap dan gelap.

One thought on “Coklat Bike

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s