Tidak sengaja!

Ketidaksengajaan membuat saya mengenal komunitas itu.

Berawal dari tempat makan yang menyajikan sambal sebagai ‘senjatanya’. keinginan ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) muncul. siapa sangka ada sesuatu yang bisa dinikmati.

Tibalah kami, saya dan kecret *bukan nama sebenarnya* :-D di TBY, tempat yang menyimpan romantisme tersendiri bagi saya, entah bagi si kecret atau teman yang lainnya.

Kami melihat adanya spanduk acara yang kalau tidak salah adalah pementasan musik untuk menyambut ramadhan, lupa siapa bintang utamanya, acara yang khusus, bagi para tamu undangan, walaupun itu bebas kami merasa salah kostum, saya dengan dandanan compang-camping dan kecret hanya menggunakan celana pendek.

Melihat-lihat sebentar karya yang ada lalu kami menuju ke papan informasi yang disana, terdapat berbagai poster acara. lalu tertarik akan poster berwarna merah, poster yang bertuliskam KAMI JUGA ANAK ANAK ADAM DAN HAWA. Sebuah pementasan pada salah satu sudut di dalam kompleks TBY.

Tempat yang berada di sudut ini cerah dengan sorot lampu. Ada sekumpulan orang dengan meja yang berhadapan, inilah “pintu masuk” ke acara tersebut, sebelah kiri saya berdiri, meja yang berjejer dimana buku tamu dan katalog tersedia dengan beberapa orang yang berdiri siap menyambut, dan kanan saya adalah jejeran meja yang menjajakan pernak-pernik acara seperti kaos dan stiker.

Bukan langsung menuju meja buku tamu, saya memilih menyingkir ke tangga yang berada tepat di samping “pintu masuk” tersebut. dengan menyalakan sebatang saja, saya duduk di salah satu anak tangga tersebut.

SUNYI! SEPI! disini tak seperti acara biasa yang saya datangi, tak ada gelak tawa, sapa tanya yang renyah, bincang-bincang yang ramai. disini sepi! mereka, tamu, penonton, dan panitia berbicara dengan cara mereka, yang tentunya membuat saya bingung.

Dengan tangan yang bergerak cepat dan bibir mereka yang naik turun penuh tenaga, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak terdengar. Tangan yang seolah-olah menyimpulkan suatu arti, talapak yang digenggam, tunjuk sana, tunjuk sini.

Ya, mereka adalah penyandang tuna rungu (tuli), dimana telinga mereka tidak berfungsi. Keterbatasan itulah yang membuat saya bingung, saya dan kecret pun hanya bisa diam lalu cengar-cengir.

Lalu kecret mengajak masuk, dia menganalogikan kami sudah terkena banjir dan airnya sudah 15 cm di atas mata kakinya, begitu si kecret bilang, “ayo masuk yuk.” ajakan iblis!kecret! *muke lu banjir*

Saya masih bingung dan terus terang sedikit takut, saya bingung andai saja mereka mengajak saya berbincang dengan cara mereka, bagaimana saya membalasnya, saya takut tak bisa membalas dengan baik, saya takut membuat mereka tersakiti dengan ketidakmampuan saya berkomunikasi unik itu.

Dengan sedikit kenekatan dan banyak cengar-cengir, kami mengisi buku tamu dan tentunya saya tak bicara, hanya mengangguk-angguk dan cengar-cengir, dengan maksud mau mengatakan permisi dan terima kasih. semoga saja mereka mengerti, tetapi sepertinya tidak.

Mengambil sebuah katalog acara, dan ke meja pernak-pernik untuk membeli stiker, aku bocahmu cret, dia yang membayar stiker itu, stiker bahasa isyarat Indonesia dengan abjad dari A-Z dan bentuk tangan yang mengartikan masing-masing abjad tersebut.

Menuju tempat pentas, tempat pentas yang terletak di bawah tanah dengan susunan lampu dan sound yang menghiasi di sisi atas, kiri, dan kanan panggung. Panggung yg sederhana tak seperti pementasan biasa. Di sana hanya terdapat tumpukan-tumpukan kayu panjang dan segi delapan, ada juga karpet seperti di kost, namun lebih besar.

Para pengunjung sudah ramai, dan terus bertambah, baik tua-muda, asli dan tidak asli. Saya menuju sudut kiri tempat pentas, kembali menyalakan sebatang saja. Ya, saya masih terpana melihat mereka berbincang-bincang, tetap dengan gerak dan ekspresi yang kuat, sering terlihat mereka tertawa dengan caranya, yang sedikit membedakan mereka. Tak hanya yang tuna rungu, mereka yang menyebut dirinya normal pun banyak yang hadir. Terlihat ada beberapa bule dan pale disana. :-)

Deaf Art Community itulah mereka, komunitas yang terdiri dari individu-individu tuli, komunitas yang menurut mereka bermanfaat sebagai lingkungan yang ramah bagi keunikan komunikasi mereka, yang meggunakan isyarat. Tempat kreatifitas dan potensi orang tuli bisa tersalurkan sehingga kepercayaan diri mereka meningkat dengan melakukan kegiatan bermanfaat. Tempat alternatif postitif yang dapat menjauhkan mereka dari negatifnya dunia seperti hal narkoba dan pergaulan bebas.

Karena suara bagi mereka tak berarti, tapi visual dan gerak yang mereka mengerti.

Pentas pun dimulai denga pembukaan oleh seorang yang saya anggap mungkin sebagai pembina atau mungkin pelatih mereka, yang mungkin juga partisipan, mereka yang peduli tak hanya simpati. Dengan kemampuan bicara dia menjelaskan sedikit tentang pentas ini. Pentas ini bisa terselenggara dengan usaha kolektif baik dari penyediaan tempat, fasilitas pendukung hingga makanan, ya itu yang saya tangkap dari penjelasannya.

Dengan dibantu oleh seorang penerjemah bagi mereka yang tuli, dia kembali menjelaskan pentas ini adalah pentas yang disutradarai oleh salah satu dari mereka yang tuli dan pemainnya juga sebagian besar adalah anggota komunitas deaf (ing = tuli). ada juga mereka partisipan yang normal ikut campur dalam pementasan ini baik sebagai pemain atau pendukung acara.

Pentas teater yang unik, dimulai dengan pendeskripsian dari pemain yang tuli  lalu diartikan oleh pemain yang dapat berbicara. beda dengan bincang biasa, mimik wajah dan gerak tubuh mereka mengisyaratkan keinginan yang kuat untuk menyampaikan sesuatu pada penonton.

Latar belakang musik hutan mulai terdengar dengan satu persatu mereka memasuki panggung utama. bertingkah seperti kera. mereka lompat sini lompat sana.

Pementasan yang terdiri dari teater, ada adegan sulap juga, tarian yang disajikan bergantian pemain pria dan perempuan, dan juga tarian modern dengan iringan hiphop yang dinyanyikan live dan bukan rekaman kaset.

Lambaian tangan pertanda applause. Itulah isyarat tepuk tangan bagi mereka. mewarnai dari awal hingga akhir acara.

Karena suara bagi mereka tak berarti, tapi visual dan gerak yang mereka mengerti.

Pada akhir pentas dibuka sesi diskusi. tentu diskusi yang unik pula. diskusi yang menggunakan penerjemah kata dan gerak. berapa orang mencoba memberi komentar dan rata-rata adalah rasa kagum komentar mereka, saya pun sependapat, saya kagum dengan mereka. Saya menikmati. Sebelum diskusi usai saya dan kecret memutuskan untuk kembali.

SUNYI! SEPI! yang saya rasakan di pintu masuk, tidak terasa disini, dipanggung pentas itu, itu hanya rasa yang beda, ramai bagi mereka pun caranya beda, dan lebih ramah. Saya bersyukur bisa merasakan suasana “ramai” itu.

Pementasan ini meberi tahu sedikit tentang tuli itu sendiri, dengan isyarat-isyarat mereka, dengan gerak, tingkah laku, raut wajah mereka. Lagi, mereka adalah sama seperti kita yang dianggap normal, sama-sama manusia yang ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, dengan cara masing-masing. Mencoba mengerti dan dimengerti.

Kekuatan, kegigihan dan kepercayaan diri bisa dilihat dari pementasan tersebut, dengan segala kekurangan yang kurang bagi mereka, saya acungkan semua jempol yang saya miliki, karena mereka tak mengerti apa itu keren, salut, yang mereka tahu hanya isyarat jempol dengan raut wajah yang menguatkan isyarat terebut.

KAMI JUGA ANAK ANAK ADAM DAN HAWA

Saya gembira bisa mengenal mereka walau hanya di permukaan, suatu saat nanti saya akan kembali untuk berkenalan dengan kalian lebih jauh lagi.

.. Maju, maju dan terus bersinar.. tulikan telinga hati mendengar!.. -bungahitam-

*Foto Jemek Supardi – Foto Dinding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s