Mereka Menang (1)

Di kedai itu, tempat berkumpul, tempat orang menikmati waktu, waktu ngopi, waktu makan dan minum, tempat dimana ocehan-ocehan ringan hingga yang berat ada, ditemani secangkir atau lebih minuman berjenis kopi atau tidak, dan beberapa batang sigaret murah, sigaret yang tak enak bagi sebagian orang, namun tidak bagi yang lain, cuma istilah rokok enak dan tidak enak namun tetap saja mereka menghisapnya, mereka memintanya. Mereka menang!

Dengan mengalir pembicaraan dimulai, tawa kecil mewarnai, bingung pun hadir, angkuh pun absen, entah kenapa malam itu terasa menyenangkan layaknya candu, kami bertiga ingin berbuat sesuatu, berbuat yang menurut kami adalah kita, kami, atau dia, dia dan dia. Ada yang bilang melihat sesuatu dari sisi lain, ada juga yang menganggap bercampurnya pikiran, penjelas yang beda, tanpa kita harus mengiyakan atau dengan terpaksa mengiyakan. Mereka menang!

Tradisi yang ingin dibangun dengan menyepelekan keegoisan kami, kami yang egois, kami yang ingin menang sendiri, kami yang ingin dimengerti tanpa mau mengerti, kami yang ingin diilihat dianggap, namun tak ingin melihat apalagi menganggap. Mereka menang!

Kami, kita, atau dia, dia. Menyempatkan diri dimalam yang dingin, dimalam yang orang lebih nyaman ada diatas neraka pegas, neraka busa mereka, neraka kapuk, neraka kotak berjendela dan berpintu, neraka yang lengkap dengan alat-alat penyenang, penggembira, penghilang jenuh, penghilang lapar dan teman dan saudara-saudaranya. Dimalam yang dipilih untuk bersembunyi dari waktu, dari jam, menit dan detik, dari bintang, dari jahatnya gelap, mereka terlelap! mereka istirahat! mereka lupa! mereka terbuai!. Mereka menang!

Kami, kita, dia, dia, membicarakan semua yang tak ada arti, buang-buang waktu, tak ada kerjaan, tak ada untungnya. Bagi kami tidak, ini berarti! ini sebuah imajinasi yang berguna, kelak! dimana kami akan masuk di belantara sebenarnya, tidak hanya berbekal ilmu dari tempat yang namanya sekolah umum, sekolah yang manis layaknya gulali, namun terasa makin membusuk. Tetap saja dikunyah dan ditelan. Mereka menang!

Lebih dari menyikapi, lebih dari mengerti apalagi mengalah, disana kita berargumen, kami berargumen, berlagak seorang pemikir handal, berlagak seperti orang pintar, itu kami! Bukan kita!. Kami, kita, dia, dia, tidak merasa pintar apalagi seorang pemikir, hanya person-person yang mungkin dibilang resah, bimbang, tapi ingin terus mencoba, terus menggali, terus bereksplorasi, karena kami punya arah, arah yang kami pegang masing-masing. Dan lagi Mereka menang!

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!
(nz)

3 thoughts on “Mereka Menang (1)

  1. kopi dan rokok bukan sekedar minuman,,yg menimbulkan bukan skedar omongan,,ataupun bukan sekedar coretan,,tapi adalah kedalaman hati fikiran,,coba menyibak sgala keresahan,,sendiri ataupun lebih baik bersama,,korbankan satu lalu tambahkan seribu,,dan dunia khan lebih menerang,,,,,

    1. alangkah indahnya jika mereka, kami, dia dan dia, paham akan sebuah istilah, sebuah simbol, dan lagi-lagi bukan hanya sekedar. :D

  2. Pemahaman itu didapatkan bukan dari omong kosong belaka, namun saat semua kata-kata dan sabar itu telah mencapai titik akhir apa yang akan terjadi? Kesenyuian? Kehampaan? Mungkin lebih tepatnya adalah kebutaan.

    Memang sulit jika seseorang sudah merasa puas karena hanya melihat sekitarnya dengan jarak amat sangat dekat. Ingat kawan “bijaksana” dan “mengalah” perbedaannya tidak lebih lebar dari sehelai rambut.

    Kepercayaan seseorang terhadap orang lain itu perlu, walaupun kita tetap harus mawas diri. Terkadang berpikiran negatif itu perlu, namun jangan berlebihan karena akan berujung dengan arus balik yang menakutkan.

    :)

    Tidak ada yang menang untuk suatu hal jika mereka sadar bahwa langit itu berlapis adanya. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s