Mencicipi Fanatisme dari Segelas Kopi

Marak kian hari terjadi kekerasan maupun penodaan terhadap sesuatu yang tidaklah sama, yang bisa dibilang ketidaktahuan sementara bagi kaum-kaum yang menganggap dirinya superior. Bermula dari arti kata fanatik atau fanaticus yang berasal dari bahasa latin. Fanatisme pada wikipedia berarti sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Kegilaan terhadap apa yang mereka yakini bahkan sekedar mereka cintai. Dari bulatnya bola hingga pada bulatnya kepercayaan mereka. Ini semua merupakan hasil karya imajinasi, daya pikir hingga olah logika yang berujung pada ketidaklogisan alasan dan penyebab. Dia dan dia resah!.

Berkicaunya media sedemikian bisingnya hanya membuat kami, terdiam. Lebih dari jenuh, dan nantinya terpaksa terbiasa. Alasan kegilaan klasik nan praktis menjadikan mereka mengasah pikiran dan arogansi sesaat untuk mencapai kepuasan semu. Kami resah!

Melihat, atau sekedar mendengar alunan sinis dan dentuman paradoks berlebih terhadap apa yang mereka benci semakin menancapkan kebencian itu sendiri, alangkah indahnya jika sebuah pertanda beda menjadikan kita sebagai selayaknya kesatuan. Tanpa terpisahkan dalam hal kecil dan terlihat sepele, berbeda namun lebih menerima. Mereka resah!

Fanatisme yang sedemikian hebohnya berujung pada jatuhnya korban yang tentunya itu sudah menunjukan bahwa fanatisme bukanlah keinginan dari hati nurani. Melainkan hanya dorongan akal untuk mencapai klimaks dari kata. Kita resah!

Jargon-jargon, dogma, hingga propaganda menjebak tidaklah menyelesaikan masalah itu sendiri, selama warna bukan hanya hitam dan putih melainkan abu-abu saja, nampaklah ketidakjelasan yang membingkai amarah menjadi labirin yang berujung namun janggal. Resah!

Kasus demi kasus yang terangkai hingga menimbulkan warisan budaya yang tak perlu, dari segi rasional mungkin saja terlihat gagah namun dari segi manusia itu sendiri adalah lemah atau mungkin payah. Resahlah!

Kopi pun sudah terlalu kental untuk di minum, hitam pekat. Penghangat tubuh pun tlah berganti, lebih berat. Mengapa dan mengapa, lagi-lagi ada di benak merah kami, tidakkah perbedaan itu baik jika menjadikan kompetisi positif untuk tujuan yang sama. Mereka, dia dan dia resah!

Bayangkan saja ketika merah kuning hijau dan biru datang bersatu dan menyanyikan lagu yang sama, menyuarakan tujuan yang sama, tak terlihat lagi kontras warna yang memang sudah kontras. Tujuan kita sama, hasil yang ingin kita terima tidaklah sama. Merinding rasanya jika fanatisme dijadikan alih-alih untuk memperkosa, lalu membunuh. Menjadi resah!

Bukankah agama untuk perdamaian, lalu kalau hanya menyakiti, itukah tujuan dari agama, mungkin dari mereka yang paham mengenai ini bisa menambahkan ketidakpahaman ini.

Bukankah terlihat lucu dan sedikit konyol jika saja pertandingan bola malah memakan korban jiwa, apa bedanya perang sama main bola. Tentu yang membedakannya hanya pada motif, skenario, tunggangan, birahi politis dari personal maupun kelompok berpengaruh yang ingin taring mereka menancap lalu merobek secara perlahan, hingga kita pun baru merasa ternyata sebagian atau seluruh dari tubuh kita ada yang luka, parah. Resah lalu resah!

Fanatik, fanatisme, layaknya kebiasaan mendengkur saat tidur, sadar maupun tidak itu menggangu mereka yang sadar maupun yang tersadar.

Tersadar — sadar, fanatisme untuk membangun lalu menghancurkan. Atau menghancurkan lalu membangun.nz

5 thoughts on “Mencicipi Fanatisme dari Segelas Kopi

  1. menurut saya fanatisme yang hilangkan rasa resah itu adalah fanatisme yang dengan segala logika dan nurani,,atau lebih dalam lagi,,tentu saja secara berimbang sesuai porsinya,,tetap berfikiran luaz untuk tujuan yang lebih luas,,thx,,

  2. Sudah bagus mas….
    Cuman coba diperhatikan deh antar paragrafnya tidak ada keteraturan, alangkah baiknya dibuat kerangka ceritanya.

    :P

    Masak habis pembahasan yang serius (mungkin) tiba-tiba berubah alurnya. :P
    Semangat mas…..
    :)

    Keep write and write again.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s