Jembatan

Mereka berdua tak pernah membayangkan ini akan terjadi. Tersesat di arah yang terpisahkan oleh jembatan kecil di atas jalan besar. Usaha yang telah mematahkan beribu jarum jam. Merobek berlembar-lembar kalender di dinding. Utara berjalan pelan di sebelah barat, dan Selatan menyeret langkahnya di sebelah timur. Mereka tak pernah bertemu muka. Semenjak jembatan itu berpintu pagar dan berkunci. Para pemegang kuncinya sering menghabiskan waktu di rumah minum kecil di tengah tengah kota. Yang ketika bertugas harus membuat kunci baru, karena kunci lama tertelan bersama air bersoda penuh tawa kecewa. Dan proses membuat kunci membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan. Hanya ada satu pembuat kunci di dunia itu. Tinggalnya pun pindah-pindah mengikuti arus samudera. Pembuat kunci tinggal di dalam botol bersama sebuah kertas yang tertulis pesan.

Dengan jarak yang tak begitu jauh. Mereka masih bisa saling mendengar. Utara mendengar teriakan tangis Selatan dan sebaliknya Selatan mendengar jerit kesakitan Utara. Suara itu jelas dan bening–seakan terpisahkan–terhindar dari distorsi mesin-mesin pencabut nyawa yang lalu lalang dengan kecepatan tak terkira.

Hanya jembatan itu yang bisa mepertemukan mereka. Jembatan yang dibangun dengan kulit-kulit luka yang terkelupas. Dengan darah-darah sosok rindu yang nekat menyeberang lalu tertabrak kendaraan ganas tak berpengemudi. Dengan berbagai cerita duka akan pertemuan yang menjadi pembuka dari perpisahan yang panjang. Dengan organ-organ dari tetubuh yang diselimuti kecewa. Karena berbahan itu semua–bahan hampir bahagia. Jembatan tak bernama itu jadi terkenal hingga ujung jalan bumi. Jembatan yang konon tercipta untuk mengenang Romi dan Juleha yang memutuskan untuk menghabiskan nyawa atas nama kasih sejati yang nyatanya tak bernyawa.

Pernah mereka bertukar suara penuh daya untuk membuat jembatan sendiri, dengan luka-luka di kaki mereka masing-masing. Luka yang membesar dan makin hari makin menjadi-jadi. Panas dingin mereka merencakan itu semua. Lalu terhempas begitu saja oleh angin yang berputar-putar, angin dengan kaki yang kecil berjumlah satu dan berkepala bulat besar menyentuh langit. Angin yang dihindari itu akan datang ketika niat nekat tercium penjaga cuaca. Ketika gagal rencana itu, mereka diam, bernyanyi bersama, melagukan kepedihan dan ketidakberdayaan. Seketika suara yang menjadi satu itu menggelapkan langit-langit ruang tempat mereka berteduh. Seakan mau runtuh, mereka meminta maaf bersamaan atas nama masing-masing. Karena telah memaksakan kehendak masing-masing. Seketika juga langit-langit itu kembali ke tempat semula. Dan mereka berhendi berlagu.

Dalam hati, mereka melanjutkan nyanyi-nyanyi sendu. Senyum di wajah yang letih dan perih terus mereka kembangkan. Tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk mencari arah lain. Karena mereka percaya. Hanya percaya pada jembatan itu. Jembatan yang sebenarnya tidak memisahkan mereka, namun jembatan yang membuat mereka merasa dekat walau kenyataanya mereka dalam situasi tersesat. Situasi yang tek terbayangkan sebelumnya itu, mau tidak mau, harus atau mesti, mereka nikmati pelan perlahan berubah menjadi aroma kerinduan tersendiri. Di dalam pelukan sang waktu mereka menabur benih yang baik di ruang mereka masing-masing. Benih yang pernah dihadiahkan dari mereka yang tertusuk duri kesedihan. Tak ada yang menyangka sebelumnya, mawar yang bertangkai duri, atau tangkai duri berbunga mawar. Dengan segala daya upaya mereka mendekati penjaga pintu jembatan, merayunya dengan berbaris-baris sajak menemani tenggakan soda dalam tenggorokan. Penjaga pintu yang suka terbang cepat tinggi dan melompat-lompat, senang dibuatnya. Dipelihara mereka berdua sebagai teman minum yang bernada. Dan kini mereka tersesat di dalam gelas soda. Siap pecah dan tumpah membasahi cerita.

Kamarhitam. Ditemani RRB. RadioheadRamonesBlur. 20MEI13.

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Jembatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s